Hampir 2.000 Orang Ditangkap dalam Kerusuhan Protes Pendidikan di Prancis

Demonstrasi pelajar dan mahasiswa di Prancis yang dipicu kekurangan guru serta kerusakan bangunan sekolah meluas menjadi kerusuhan, dengan hampir 2.000 orang ditangkap sejak aksi dimulai.

PARIS – Aksi unjuk rasa pelajar dan mahasiswa di Prancis yang dipicu kekurangan tenaga pengajar dan buruknya kondisi bangunan sekolah meluas menjadi kerusuhan di sejumlah wilayah. Hingga Jumat (02/10/2026), hampir 2.000 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai, sementara pemerintah menyoroti aksi pembakaran fasilitas dan bentrokan dengan aparat keamanan.

Menteri Kehakiman Prancis Gerald Darmanin mengatakan, sebagian peserta aksi terlibat dalam tindakan kekerasan yang dinilai telah melampaui tuntutan awal demonstrasi. Menurut dia, sekitar dua pertiga dari orang-orang yang ditangkap telah ditahan oleh polisi.

“Ada minoritas yang aktif dan melakukan kekerasan [yang berpartisipasi dalam protes]. Kami bahkan tidak yakin apakah mereka adalah siswa sekolah menengah atas,” ujar Darmanin kepada radio RTL, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (03/10/2026).

Darmanin menilai perkembangan aksi tersebut telah mengubah persoalan pendidikan menjadi masalah ketertiban umum. Ia menyoroti serangan terhadap kendaraan umum dan pembakaran sekolah yang terjadi selama rangkaian demonstrasi.

“Ini telah beralih dari demonstrasi siswa SMA menjadi gangguan ketertiban umum. Orang-orang menargetkan bus dan membakar sekolah. Itu bukan lagi sekadar masalah protes,” tambah dia.

Bentrokan antara demonstran dan polisi dilaporkan meningkat sejak Rabu (30/09/2026). Sejumlah fasilitas dilaporkan terbakar, sementara video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang guru diserang oleh massa. Insiden-insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan tenaga pendidik di tengah situasi yang memburuk.

Meski demikian, tuntutan terkait kondisi pendidikan tetap menjadi latar belakang utama demonstrasi. Para pelajar mempersoalkan kekurangan guru, posisi pengajar yang tidak segera digantikan ketika kosong, serta kondisi sejumlah bangunan sekolah yang dinilai rusak dan membutuhkan perbaikan.

Aksi bermula di sejumlah sekolah sejak September dan meluas pada pekan terakhir bulan tersebut. Eskalasi meningkat pada Selasa (29/09/2026), kemudian bentrokan bertambah serius di beberapa kota pada Kamis (01/10/2026). Mahasiswa turut bergabung dalam demonstrasi yang awalnya digerakkan oleh pelajar sekolah menengah.

Di tengah kerusuhan, sejumlah lembaga intelijen dilaporkan menuding politisi sayap kiri garis keras ikut berkontribusi dalam memicu kekacauan. Namun, anggota parlemen membantah tuduhan tersebut. Klaim mengenai keterlibatan aktor politik itu belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terverifikasi secara independen.

Perkembangan demonstrasi menempatkan pemerintah Prancis pada dua persoalan yang perlu ditangani secara bersamaan, yakni menjaga keamanan publik dan merespons keluhan mengenai layanan pendidikan. Penanganan kekerasan menjadi perhatian mendesak, sedangkan persoalan kekurangan guru dan kondisi bangunan sekolah membutuhkan tindak lanjut agar tuntutan yang memicu aksi tidak terus berlarut-larut. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *