Lebih dari 500 titik panas dan memburuknya kualitas udara mendorong Satgas Karhutla Kotim mengusulkan helikopter pemadam disiagakan di Sampit.
KOTAWARINGIN TIMUR – Ancaman gangguan kesehatan akibat asap kebakaran mendorong Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengusulkan satu unit helikopter water bombing disiagakan di Sampit selama status tanggap darurat berlangsung. Usulan itu disampaikan setelah jumlah hotspot di Kotim melampaui 500 titik dan kualitas udara masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Penempatan helikopter di Sampit dinilai dapat mempercepat penanganan kebakaran besar, terutama di kawasan gambut yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat. Selama ini, armada pemadaman udara masih berpangkalan di Palangka Raya sehingga memerlukan waktu tambahan untuk mencapai lokasi kebakaran di Kotim.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan usulan penempatan armada tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) dan instansi terkait, sebagaimana dilansir Radar sampit, Selasa, (04/08/2026).
“Kalau memang nanti dibutuhkan, kita sudah mengusulkan agar satu unit helikopter water bombing bisa standby di Sampit. Respons akan jauh lebih cepat dibanding harus berangkat dari Palangka Raya,” ujarnya.
Sebagai bagian dari persiapan, Satgas Karhutla Kotim mulai berkoordinasi dengan pengelola Bandar Udara (Bandara) H. Asan Sampit. Koordinasi mencakup lokasi parkir helikopter, ketersediaan bahan bakar avtur, serta dukungan operasional apabila armada harus bermalam di Sampit.
Meski demikian, pemadaman melalui udara tidak akan langsung dilakukan setiap kali muncul laporan kebakaran. Tim darat terlebih dahulu melakukan pemeriksaan lapangan atau ground check untuk memastikan api masih aktif, terus meluas, dan tidak dapat ditangani secara manual.
“Kalau kebakaran masih bisa ditangani personel darat tentu kita padamkan sendiri. Water bombing menjadi pilihan terakhir ketika lokasi jauh, sumber air tidak ada, akses sulit, dan luas kebakaran terus bertambah,” katanya.
Menurut Rihel, efektivitas pemadaman udara terlihat ketika helikopter dikerahkan untuk menangani kebakaran di kawasan Kuala Kuayan. Dalam satu hari, helikopter mampu melakukan 12 sorti hingga kobaran api berhasil dikendalikan.
Namun, proses penanganan tidak berhenti setelah api padam. Petugas masih harus melakukan pendinginan untuk memastikan bara yang tersimpan di lapisan gambut tidak kembali memicu kebakaran.
“Kendala terbesar saat pendinginan adalah sumber air yang jauh. Karena itu kami memanfaatkan embung dan membutuhkan personel lebih banyak agar bara benar-benar padam,” jelasnya.
Kebakaran berulang terpantau terjadi di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7. Api juga meluas hingga Kilometer 12 dan Kilometer 13 yang didominasi lahan gambut dalam, dengan akses pemadaman serta sumber air yang terbatas.
Asap dari kebakaran tersebut mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kotim. Kondisi udara yang memburuk dikhawatirkan meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lanjut usia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
“Kondisi kualitas udara sudah tidak baik. Ini perlu menjadi perhatian bersama, termasuk kemungkinan penyesuaian jam belajar di sekolah maupun pembagian masker apabila kondisi asap semakin memburuk,” pungkasnya.
Penempatan helikopter di Sampit diharapkan dapat memangkas waktu respons ketika kebakaran meluas dan tidak mampu dijangkau tim darat. Bersamaan dengan itu, pemerintah dan masyarakat diminta memperkuat pencegahan agar karhutla tidak semakin memperburuk kualitas udara dan mengancam kesehatan warga Kotim. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan