Realisasi investasi Berau yang mencapai Rp8,76 triliun pada 2025 menjadi modal memperkuat ekonomi lokal, pariwisata, pertanian, perikanan, dan pembangunan berkelanjutan.
BERAU – Realisasi investasi Kabupaten Berau mencapai Rp8,76 triliun pada 2025 atau 194,71 persen dari target Rp4,5 triliun. Capaian tersebut menjadi salah satu modal Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau untuk memperkuat ekonomi lokal dan mendorong pembangunan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan, termasuk ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Capaian investasi itu disampaikan Bupati Berau Sri Juniarsih dalam Sidang Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-73 Berau dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-216 Tanjung Redeb di Ruang Rapat Paripurna DPRD Berau, Senin (14/09/2026).
Berdasarkan persentase realisasi investasi, Berau menempati peringkat pertama di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2025. Sementara itu, hingga triwulan I dan II 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp3,6 triliun dari target Rp8 triliun.
Menurut Sri Juniarsih, capaian tersebut perlu diikuti dengan penguatan sektor ekonomi yang bersumber dari potensi daerah. Salah satunya melalui pengembangan komoditas kakao yang telah menembus pasar internasional, serta penguatan sektor pertanian dan perikanan.
Hingga Agustus 2026, luas tanam padi di Berau mencapai 2.711,2 hektare dengan produksi 7.862,48 ton. Produksi jagung tercatat 3.851 ton, sedangkan sektor perikanan menghasilkan sekitar 35.000 ton per tahun.
Pengembangan ekonomi juga diarahkan pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemkab Berau mendorong diversifikasi melalui pengembangan Batik Derawan Maratua serta pariwisata berbasis konservasi. Infrastruktur turut diperkuat untuk membuka akses dan meningkatkan konektivitas kawasan pedalaman serta pesisir, termasuk pembangunan jembatan dan dermaga di sejumlah kecamatan.
Agenda pembangunan tersebut berjalan bersamaan dengan upaya menjaga kondisi lingkungan. Kemarau panjang meningkatkan risiko karhutla di Berau. Data per 29 Agustus 2026 mencatat jumlah titik panas (hotspot) sempat mencapai 779 titik. Angka tersebut kemudian turun menjadi 50 titik berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kaltim periode 09 September 2026.
Meski jumlah titik panas menurun, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui kolaborasi Pemkab Berau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, pihak swasta, dan unsur terkait lainnya.
Sri Juniarsih mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta menjaga kesehatan dengan menggunakan masker serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Berbagai capaian dan tantangan tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan Berau 2025–2030 yang mengusung visi mewujudkan Berau yang maju, unggul, berkelanjutan, makmur, dan sejahtera. Fokus kebijakan mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, pemerataan pembangunan, penguatan tata kelola pemerintahan, serta pengembangan ekonomi kreatif, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Momentum Hari Jadi ke-73 Berau dan HUT ke-216 Tanjung Redeb turut diisi prosesi pemotongan Puncak Rasul oleh Sri Juniarsih bersama Wakil Bupati (Wabup) Berau Gamalis dan Ketua DPRD Berau Dedy Okto Nooryanto.
Potongan Puncak Rasul kemudian diserahkan kepada perwakilan Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, para Bupati Berau terdahulu, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Provinsi Kaltim, serta anggota DPRD Berau yang hadir.
Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan para pendahulu Berau sekaligus menggambarkan keterlibatan pemerintah, legislatif, kesultanan, tokoh masyarakat, dan elemen daerah dalam menjaga warisan budaya. Rangkaian peringatan itu sebagaimana diberitakan Diskominfo Berau, Senin (14/09/2026).
Menutup sambutannya, Sri Juniarsih mengajak DPRD, Forkopimda, tokoh masyarakat, pemuka adat, pemuka agama, dan masyarakat menjaga persatuan serta kondusivitas daerah.
“Marilah kita tingkatkan kualitas kinerja dan prestasi, mengedepankan empati dan kepedulian, serta partisipasi masyarakat dalam setiap kebijakan yang kita laksanakan,” ujar Sri Juniarsih.
Ia menegaskan, pembangunan tidak dapat berjalan hanya melalui kerja pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak. Karena itu, momentum hari jadi diharapkan menjadi dorongan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, memperkuat potensi lokal, menjaga lingkungan, dan memastikan pembangunan Berau memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan