Pemkot Bontang membekali sekitar 50 pelaku UMKM dengan strategi mutu, branding, pemasaran digital, dan pemenuhan persyaratan ekspor untuk membidik pasar Singapura.
BONTANG – Sebanyak 50 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Bontang dibekali strategi peningkatan mutu produk, penguatan branding, pengemasan, dan pemasaran digital sebagai langkah awal memenuhi persyaratan untuk menembus pasar Singapura.
Pembekalan tersebut dilaksanakan melalui Workshop UMKM Insight Series 1 bertema “Strategi UMKM Bontang Menembus Pasar Singapura” di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Jumat (24/07/2026).
Kegiatan yang dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni itu menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang dalam memperluas akses pasar produk lokal sekaligus meningkatkan kesiapan UMKM menghadapi persaingan di tingkat nasional dan internasional.
Melalui kegiatan tersebut, pelaku UMKM memperoleh pemahaman mengenai persyaratan ekspor, standar kualitas produk, strategi pemasaran, penguatan identitas merek, serta peluang menjadikan Singapura sebagai salah satu tujuan pemasaran produk lokal.
Kegiatan itu, sebagaimana dilansir Ppid Setda, Jumat, (24/07/2026), melibatkan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang, Perseroan Terbatas (PT) Kaltim Nitrate Indonesia (KNI), perusahaan mitra, serta perangkat daerah.
Neni mengatakan, peningkatan daya saing tidak cukup hanya mengandalkan keunikan produk. Pelaku usaha juga harus mampu berinovasi, menjaga mutu, membangun merek, dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar.
“UMKM harus terus berinovasi, memperkuat branding, meningkatkan kualitas produk, dan memanfaatkan pemasaran digital agar mampu bersaing di pasar nasional hingga global,” tegas Neni memberikan arahan.
Menurut Neni, sejumlah produk UMKM Bontang telah berhasil dipasarkan ke luar negeri. Capaian itu dinilai menjadi modal bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan jumlah produk lokal yang memenuhi standar ekspor.
Pemkot Bontang juga mendorong pengembangan produk unggulan berbasis potensi wilayah melalui konsep One Village One Product (OVOP). Pendekatan tersebut diarahkan agar setiap wilayah memiliki produk khas yang dikembangkan secara konsisten, mulai dari kualitas, kemasan, pemasaran, hingga kapasitas produksinya.
Kepala Dinas (Kadis) Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Bontang Eko Arisandi mengatakan, Diah Gayatri dihadirkan untuk membagikan pengalaman dan strategi praktis memasuki pasar ekspor.
Diah merupakan Pendiri (Founder) Gayatri International Private Limited (Pte. Ltd.). Pengalaman tersebut diharapkan membantu peserta memahami kondisi pasar, kebutuhan konsumen, serta tahapan yang harus dipenuhi sebelum menawarkan produknya ke luar negeri.
Dukungan terhadap penguatan UMKM juga disampaikan Senior Site Director PT KNI Budi Santoso. Perusahaan itu berkomitmen mendukung pengembangan pelaku usaha lokal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan.
Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, dan pelaku usaha diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan melalui pendampingan produksi, pemenuhan legalitas, peningkatan mutu, perluasan pemasaran, serta pembukaan akses ekspor agar UMKM Bontang semakin tangguh dan berdaya saing global. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan