DTPHP Kutim memperingatkan kekurangan air pada awal masa tanam dapat memicu gagal panen, sementara bantuan pompa belum menjadi solusi apabila sumber air terus menyusut akibat minimnya curah hujan.
KUTAI TIMUR – Kekeringan akibat perubahan iklim mulai mengancam produksi pertanian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terutama pada lahan yang baru ditanami. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim memperingatkan tanaman yang kekurangan air pada bulan pertama masa pertumbuhan berisiko mengalami gagal panen.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DTPHP Kutim Purno Edi mengatakan, fase awal setelah penanaman merupakan periode penting karena tanaman membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk pertumbuhan.
“Kalau setelah tanam itu memang butuhnya untuk pertumbuhan terlebih dahulu, tapi kalau dari awal ini di satu bulan pertama ini kering, ini kita juga berisiko gagal panen,” kata Purno Edi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (31/08/2026).
Menurut Purno, kondisi tersebut sudah dirasakan petani yang baru melakukan penanaman. Kekeringan yang terjadi segera setelah masa tanam membuat tanaman lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan.
“Itu kan baru tanam, kemarin tanam bersama, habis itu sudah kekeringan, itu kasihan banget,” ujarnya.
DTPHP Kutim telah mendistribusikan bantuan pompa air yang bersumber dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kepada petani terdampak. Namun, Purno menegaskan persoalan yang kini dihadapi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sarana irigasi, tetapi terutama semakin terbatasnya sumber air.
“Sekarang pertanyaannya bukan masalah pompa airnya atau sarananya, tapi sumber airnya,” terangnya.
Kondisi tersebut membuat bantuan pompa tidak dapat berfungsi optimal apabila sungai, embung, ataupun sumber air lain yang digunakan untuk mengairi lahan mengalami penyusutan akibat minimnya curah hujan.
DTPHP Kutim kini menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk sektor swasta, untuk mencari solusi jangka panjang terhadap keterbatasan air bagi lahan pertanian. Pemerintah daerah juga berupaya memperkuat ketersediaan air melalui pembangunan embung di sejumlah kecamatan.
Namun, keberadaan embung belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan kekeringan karena kapasitasnya sangat bergantung pada pasokan air hujan. Minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan cadangan air untuk pertanian turut berkurang.
“Kemampuan manusia kembali ke kemampuan, dan faktor alam ini akan berbeda. Kalau tidak ada hujan, upaya kita untuk memenuhi sarana kita lakukan, tapi kita juga berbicara lagi dengan kondisi alam,”tutupnya.
DTPHP Kutim berharap penguatan sumber air, pembangunan infrastruktur penampungan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak dapat mengurangi risiko kekeringan terhadap sektor pertanian. Upaya tersebut menjadi penting untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mencegah petani mengalami kerugian akibat gagal panen apabila musim kering berlangsung lebih panjang. []
Penulis: Butsinah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan