El Niño Menguat, BPBD Kukar Waspadai Kekeringan di 9 Kecamatan

BPBD Kukar mencatat kekeringan telah terdeteksi di sembilan kecamatan dan karhutla terjadi di 14 kecamatan, sementara jumlah hotspot kategori tinggi pada Agustus meningkat menjadi sekitar 40 titik.

KUTAI KARTANEGARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring menguatnya fenomena El Niño pada Agustus 2026. Kekeringan telah terdeteksi di sembilan kecamatan, sementara kejadian karhutla tercatat menjangkau 14 kecamatan di Kukar.

Sekretaris BPBD Kukar Sandi mengatakan kondisi tersebut berpotensi berdampak langsung terhadap ketersediaan air masyarakat dan sektor pertanian. Penurunan permukaan air juga meningkatkan ancaman gagal tumbuh hingga gagal panen di wilayah terdampak.

“Potensi kekeringan dan gagal panen tinggi sekali,” kata Sandi saat ditemui Kamis (13/08/2026).

BPBD Kukar kini berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk memadukan data kekeringan dengan kondisi pertanian di masing-masing kecamatan. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

Kecamatan Marangkayu menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena mengalami tingkat kekeringan tinggi. Selain itu, Desa Rapak Lambur di Kecamatan Tenggarong turut masuk dalam pemetaan penanganan kekeringan.

Ancaman bencana pada musim kering juga terlihat dari peningkatan jumlah titik panas atau hotspot. Sandi menyebut jumlah hotspot kategori tinggi pada Agustus melonjak dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

“Kalau berbicara titik hotspot, ritmenya seperti ini. April sekitar 12, kemudian terakhir di Juli ada 10. Sekarang di Agustus, yang tingkat tinggi sekitar 40,” ujarnya.

BPBD Kukar melakukan pengecekan lapangan atau ground check terhadap setiap titik yang terpantau untuk memastikan apakah hotspot tersebut benar-benar merupakan kebakaran hutan atau lahan. Informasi titik panas dihimpun dari berbagai sistem pemantauan, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sistem pemantauan karhutla.

Sejumlah kawasan dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi, di antaranya Taman Hutan Raya (Tahura) di Samboja serta Desa Kupang Baru dan Desa Sabintulung di Kecamatan Muara Kaman.

Penanganan di lapangan melibatkan unsur pemadam kebakaran (Damkar), Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), relawan, serta unsur terkait lainnya.

Menurut Sandi, penanggulangan bencana dilakukan melalui pendekatan pentahelix dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media. Kolaborasi diperlukan karena penanganan kekeringan dan karhutla membutuhkan sumber daya lintas sektor.

Selain memetakan wilayah terdampak, BPBD Kukar juga menginventarisasi sumber air yang masih dapat dimanfaatkan. Namun, sejumlah embung dilaporkan mulai mengering, sedangkan permukaan air sungai mengalami penurunan.

Untuk penanganan jangka pendek, pemerintah menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah yang membutuhkan. Sementara dalam jangka panjang, BPBD Kukar berkoordinasi dengan instansi teknis untuk memanfaatkan pemetaan air tanah sebagai dasar pembangunan sumur bor.

Sandi menambahkan, kondisi El Niño diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus, kemudian berangsur menurun pada September dan berakhir sekitar Oktober. Meski demikian, kekeringan dan hari tanpa hujan masih berpotensi berlangsung lebih lama bergantung pada perkembangan cuaca dan iklim.

Selain faktor iklim, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang dapat memicu karhutla. BPBD Kukar mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok dalam kondisi masih menyala, maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering.

BPBD Kukar masih menghimpun dan memverifikasi data jumlah kejadian serta luas lahan yang terbakar. Verifikasi diperlukan karena terdapat perbedaan data dari sejumlah sumber sehingga angka resmi belum dapat dipublikasikan.

“Untuk luasan yang sudah terbakar nanti mungkin minggu depan bisa saya sampaikan. Kami menghimpun data tidak sembarangan,” ujarnya. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com