Diskusi publik di Samarinda menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai aktor utama dalam demokrasi, literasi, dan pengambilan kebijakan di tengah dinamika pembangunan Kaltim.
SAMARINDA – Momentum peringatan Hari Kartini dimanfaatkan Forum Intelektual Muda bersama Korps PMII Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan debat terbuka yang membahas peran perempuan dalam demokrasi dan gerakan sipil di tengah dinamika daerah, Selasa (21/4/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di Bagios Caffe and Resto, Samarinda ini mengangkat tema “Kartini, Demokrasi, dan Demonstrasi: Membaca Ulang Peran Perempuan dan Gerakan Sipil di Tengah Dinamika Kaltim”. Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Co-Founder Forum Intelektual Muda Sutisna, penasihat Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Kaltim Bambang Widjayanto, pengamat hukum dan kebijakan Rusdiono, serta aktivis perempuan Yovanda Noni.
Co-Founder Forum Intelektual Muda, Sutisna, mengatakan bahwa meningkatnya ruang diskusi publik dan lahirnya komunitas intelektual di Kaltim menjadi indikator tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam menyampaikan gagasan secara kritis dan konstruktif. Ia menilai dinamika tersebut perlu direspons secara matang melalui pendekatan berbasis kajian.
“Dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara, Kaltim menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, setiap dinamika yang berkembang perlu disikapi melalui kajian yang mendalam agar menghasilkan solusi yang tepat,” ujar Sutisna, melalui rilis yang diterima media ini, Kamis (23/4/2026).
Sebagai narasumber, Bambang Widjayanto menyoroti relevansi pemikiran Raden Ajeng Kartini dalam konteks kekinian. Ia menilai kekuatan literasi menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban, sebagaimana yang ditunjukkan Kartini melalui tulisan-tulisannya.
“Pemikiran Kartini mampu menembus batas zaman. Ia membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari gagasan yang dituliskan. Literasi menjadi kunci utama dalam membangun masyarakat yang beradab,” kata Bambang.
Dari sisi hukum dan kebijakan, Rusdiono menjelaskan bahwa perempuan kini memiliki peluang yang semakin luas, baik di sektor domestik maupun publik. Ia menilai Kaltim telah menunjukkan kemajuan dengan hadirnya perempuan dalam posisi strategis, termasuk sebagai kepala daerah. Menurutnya, generasi muda perempuan perlu berani mengambil peran lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.
“Perempuan harus berani mengisi ruang-ruang strategis dan aktif mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat,” ujar Rusdiono.
Sementara itu, aktivis perempuan Yovanda Noni menekankan bahwa makna emansipasi saat ini telah berkembang. Ia menilai perjuangan perempuan tidak lagi sebatas menuntut kesetaraan, tetapi juga mencakup kepemimpinan dan penguasaan ruang-ruang kekuasaan.
“Perempuan hari ini harus mampu memimpin dan menjadi pengambil keputusan. Akses terhadap pendidikan dan kebebasan berpikir menjadi fondasi agar perempuan dapat menjadi agen perubahan di berbagai sektor,” tegas Yovanda.
Melalui forum ini, penyelenggara berharap meningkatnya aktivitas gerakan sipil di Kaltim dapat diimbangi dengan diskursus intelektual yang berkualitas. Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga menjadi ruang refleksi sekaligus rekomendasi bagi penguatan peran perempuan dalam dinamika pembangunan daerah.
Dengan demikian, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari proses demokrasi, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan masyarakat. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan