Pameran Gebyar Museum Sadurengas 2026 menghadirkan benda bersejarah milik keturunan kerajaan yang berusia ratusan tahun untuk memperkuat edukasi sejarah dan meningkatkan kunjungan wisatawan.
PASER – Benda bersejarah berusia hingga 300 tahun milik keturunan Kerajaan Sadurengas menjadi daya tarik dalam pameran budaya Gebyar Museum Sadurengas 2026 di Museum Sadurengas, Kabupaten Paser, Sabtu (20/06/2026). Pameran tersebut digelar untuk mengenalkan sejarah kerajaan kepada generasi muda sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.

Berbeda dengan koleksi tetap museum, benda-benda yang dipamerkan merupakan warisan keluarga kerajaan yang masih disimpan oleh para ahli waris. Koleksi itu terdiri atas perkakas rumah tangga, peralatan perang, dan alat berburu yang telah berusia lebih dari 100 tahun.

Sejumlah benda yang dipamerkan antara lain piring keramik berusia ratusan tahun, Otak Lentik, Otak Tongkir, Otak Lempak, dan Sadop. Masing-masing benda memiliki bentuk, fungsi, serta nilai sejarah yang berbeda. Alat berburu bernama Sadop bahkan diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun.
Pengelola Museum Sadurengas, Sri Wahdaniyati Rahmah, mengatakan pameran budaya tersebut rutin diselenggarakan melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Paser.
“Jadi kegiatan ini sebagai bentuk upaya mengenalkan museum ke generasi muda. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kunjungan wisatawan ke Museum Sadurengas juga dapat meningkat,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu (20/06/2026).
Sri, yang akrab disapa Ica, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan ke Museum Sadurengas menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan itu didorong oleh berbagai program edukasi, salah satunya Museum Masuk Sekolah.
Program tersebut melibatkan pelajar dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pelajar memperoleh jadwal untuk berkunjung dan mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah di museum.
“Jadi setiap sekolah di Kabupaten Paser mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA punya jadwal kunjungan dan belajar di museum. Kegiatan ini rutin dilakukan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan nilai sejarah kepada pelajar. Sejarah harus tetap dipelihara agar tidak hilang begitu saja,” imbuhnya.
Sejumlah koleksi yang dipamerkan memiliki ornamen khas dari masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Karakteristik tersebut terlihat pada corak lukisan, komposisi warna, gaya ornamen, serta bahan yang digunakan dalam pembuatan perkakas rumah tangga.
Selain koleksi dari masa Dinasti Ming dan Qing, pameran tersebut menampilkan benda yang diperkirakan berasal dari masa kolonial Belanda. Identifikasi awal terhadap benda dilakukan dengan memperhatikan usia, gaya ukiran, bahan baku, jenis, dan karakteristik fisiknya.
“Jadi rata-rata koleksinya ini sudah berusia ratusan tahun ya, ada yang dari masa dinasti Ming dan Qing, ada juga dari masa-masa peninggalan kolonial Belanda. Dan itu bisa dilihat dari coraknya, warna ornamennya, maupun dari bahan baku yang digunakan”, Pungkasnya.
Kehadiran koleksi milik keturunan Kerajaan Sadurengas itu diharapkan tidak hanya menarik minat masyarakat untuk mengunjungi museum, tetapi juga memperkuat pemahaman generasi muda mengenai sejarah dan kebudayaan Paser. Pameran tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga benda-benda warisan keluarga kerajaan agar nilai sejarahnya tetap dikenal oleh masyarakat. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan