Ilustrasi

Habitat Terbakar, Satwa Liar di Kotim Jadi Korban Karhutla

Karhutla di Kotim turut mengancam habitat dan kehidupan satwa liar, dengan sanca batik beserta puluhan telurnya menjadi salah satu korban yang ditemukan mati di kawasan terdampak kebakaran.

KOTAWARINGIN TIMUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), tidak hanya berdampak terhadap manusia, tetapi juga mengancam habitat dan kehidupan satwa liar. Sejumlah hewan ditemukan mati di kawasan terdampak kebakaran, termasuk seekor sanca batik bersama puluhan telurnya.

Temuan tersebut menjadi gambaran bagaimana kebakaran dapat memutus ruang hidup satwa yang tidak seluruhnya mampu menyelamatkan diri ketika api menjalar. Selain ular, pegiat perlindungan satwa juga menemukan berbagai jenis hewan lain yang terdampak karhutla.

Video yang beredar di media sosial baru-baru ini memperlihatkan seekor sanca batik (Malayopython reticulatus) bersama puluhan telurnya dalam kondisi mati. Induk ular dan telur-telurnya diduga tidak dapat menyelamatkan diri ketika kawasan tempat hidupnya terbakar.

Harie, aktivis pecinta satwa di Sampit, mengatakan upaya menyelamatkan satwa tetap dilakukan meskipun perhatian publik selama karhutla lebih banyak tertuju pada dampaknya terhadap manusia.

“Apapun yang kami lakukan, mau itu satu apapun, ya kami berusaha melindungi mereka karena mereka punya hak,” ujar Harie, Jumat (11/09/2026).

Menurut Harie, perlindungan terhadap satwa tidak hanya berkaitan dengan penyelamatan ketika kebakaran telah terjadi. Menjaga habitat merupakan bagian penting agar manusia dan satwa dapat hidup berdampingan tanpa saling mengganggu.

“Yang kami inginkan itu habitatnya terjaga, alamnya terjaga, hidup berdampingan dengan manusia tanpa mengusik satu sama lain. Intinya kami ingin kesejahteraan hewan itu mencukupi,” katanya.

Kondisi di lapangan, kata Harie, tidak selalu memungkinkan satwa ditemukan dalam keadaan hidup. Para aktivis juga kerap menemukan bangkai hewan yang tidak mampu keluar dari lokasi kebakaran.

“Kalau kami menemukan sisa-sisa bangkai yang mati, kami kuburkan. Itu penuh effort, energi dan waktu juga,” tuturnya.

Proses menguburkan satwa yang mati menjadi salah satu bentuk kepedulian para pegiat terhadap hewan terdampak karhutla. Di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran turut menimbulkan konsekuensi terhadap keseimbangan ekosistem.

Harie menyebut satwa yang ditemukan terdampak tidak hanya ular. Trenggiling, burung, berbagai jenis hewan melata, dan satwa lainnya juga menghadapi ancaman ketika kebakaran mencapai habitat mereka.

“Miris sih pada zaman sekarang, apalagi sekarang pembakaran di mana-mana,” katanya, sebagaimana diberitakan Tribunkalteng, Jumat (11/09/2026).

Satwa liar memiliki kemampuan berbeda untuk merespons kebakaran. Sebagian dapat berpindah ke lokasi lain, sedangkan satwa yang lambat bergerak, terjebak, tengah bertelur, atau berada di area yang dikepung api menghadapi risiko lebih besar.

Di tengah kondisi tersebut, para pegiat satwa memilih memusatkan perhatian pada penyelamatan hewan yang masih dapat ditolong.

“Sudah, sekarang apa yang bisa kita selamatkan, kita selamatkan. Gitu aja lah,” ucapnya.

Harie berharap habitat dan lingkungan tetap dijaga agar satwa liar tidak terus menjadi korban tersembunyi di balik karhutla. Penanganan kebakaran, menurut perspektif pegiat satwa, perlu memperhitungkan tidak hanya keselamatan manusia dan kerugian lahan, tetapi juga keberlangsungan satwa serta ekosistem yang menjadi tempat hidupnya. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com