Laporan intelijen Amerika Serikat menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar fasilitas rudal di Selat Hormuz, bertentangan dengan klaim kerusakan besar akibat operasi militer sebelumnya.
WASHINGTON – Penilaian intelijen terbaru Amerika Serikat (AS) menggambarkan bahwa Iran masih mempertahankan sebagian besar infrastruktur rudal di kawasan strategis Selat Hormuz, meskipun sebelumnya sempat diklaim mengalami kerusakan signifikan akibat kampanye militer gabungan AS–Israel. Laporan tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai tingkat efektivitas operasi militer di Timur Tengah dan kondisi sebenarnya kekuatan militer Iran di lapangan.
Temuan itu berasal dari penilaian intelijen rahasia yang dilakukan awal bulan ini dan kemudian dikutip oleh The New York Times. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa jaringan fasilitas rudal Iran di sepanjang jalur vital perdagangan minyak dunia itu masih berfungsi dan belum sepenuhnya terdampak serangan.
“Iran masih memiliki sebagian besar situs rudalnya di sepanjang Selat Hormuz,” demikian laporan tersebut.
Informasi itu sekaligus menanggapi klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar selama rangkaian kampanye pengeboman yang berlangsung sejak 28 Februari hingga gencatan senjata pada 8 April. Namun, analisis terbaru dari komunitas intelijen AS menunjukkan gambaran yang berbeda terkait tingkat kerusakan tersebut.
Perbedaan penilaian ini menyoroti tantangan dalam memverifikasi dampak sebenarnya dari operasi militer modern, terutama di wilayah yang memiliki akses terbatas bagi pengamatan langsung. Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik strategis global karena dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia, sehingga setiap dinamika keamanan di kawasan tersebut berdampak langsung pada pasar energi internasional.
Informasi tersebut sebagaimana diberitakan Sindonews, Rabu (13/05/2026), yang mengutip laporan media Amerika Serikat terkait evaluasi intelijen terbaru. Situasi ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama dalam hubungan AS dan Iran, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Pengamat menilai bahwa perbedaan antara klaim politik dan hasil penilaian intelijen dapat memengaruhi persepsi internasional terhadap efektivitas strategi militer yang dijalankan di Timur Tengah. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan