Pemerintah RI menegaskan seluruh kapal asing wajib mematuhi hukum laut internasional setelah dua tanker Iran terdeteksi memasuki perairan Indonesia.
TEHERAN – Ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat setelah Iran tetap melanjutkan aksinya terhadap kapal-kapal Amerika Serikat (AS), meskipun Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras akan “melenyapkan” negara tersebut jika serangan terus terjadi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ancaman militer dari Washington tidak serta-merta menghentikan langkah Teheran di jalur strategis perdagangan global tersebut. Iran justru menunjukkan sikap tidak bergeming di tengah tekanan yang meningkat.
Trump sebelumnya mengeluarkan peringatan tegas terkait keselamatan kapal-kapal AS yang beroperasi dalam misi Project Freedom, yakni upaya militer untuk mengawal kapal dagang melintasi Selat Hormuz. Ancaman tersebut disampaikan dalam konteks meningkatnya insiden di wilayah tersebut.
Koresponden Fox News, Trey Yingst, mengatakan dia telah berbicara dengan Trump selama sekitar 20 menit mengenai situasi dengan Iran. Selama percakapan tersebut, Trump membanggakan “Project Freedom”—sebuah upaya militer AS yang bertujuan untuk memandu kapal-kapal perdagangan melewati Selat Hormuz—, dan mengeluarkan ancaman keras kepada Teheran, sebagaimana diberitakan Sindonews, Selasa, (05/05/2026).
Alih-alih meredakan ketegangan, situasi ini justru menegaskan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia kini menjadi titik krusial yang berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas ekonomi global apabila konflik terus berlanjut.[]
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan