Ketegangan AS-Iran Memanas Lewat Klaim yang Bertolak

Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembatalan hukuman mati terhadap delapan perempuan demonstran sebagai hasil permintaannya.

JAKARTA – Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pembatalan hukuman mati terhadap delapan perempuan demonstran di Iran dibantah oleh pemerintah Iran yang menyebut informasi tersebut sebagai fake news atau berita palsu.

Pernyataan itu mencuat setelah Trump menyampaikan ucapan terima kasih kepada Iran melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Rabu (22/4), dengan menyebut keputusan tersebut sebagai respons atas permintaannya kepada pemerintah Iran.

“Kabar yang sangat baik. Saya baru saja diberitahu bahwa delapan demonstran perempuan yang akan dieksekusi malam ini di Iran tidak akan dibunuh. Saya sangat menghargai bahwa Iran, dan para pemimpinnya, menghormati permintaan saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, dan menghentikan eksekusi yang direncanakan,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu, (23/04/2026).

Dalam unggahan yang sama, Trump juga mengklaim empat demonstran perempuan akan segera dibebaskan, sementara empat lainnya hanya akan menjalani hukuman penjara selama satu bulan.

Namun, pihak Iran menepis pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak benar, sehingga memunculkan perbedaan narasi antara kedua negara terkait isu sensitif tersebut.

Perbedaan klaim ini menambah panjang daftar ketegangan komunikasi antara AS dan Iran, terutama dalam isu hak asasi manusia dan kebijakan dalam negeri, serta berpotensi memicu kebingungan publik internasional terhadap validitas informasi yang beredar di ruang digital. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com