Dor Gedalia Ben Simhon tewas bersama tiga tentara Israel di Lebanon selatan, sementara unit yang dipimpinnya kembali disorot karena terkait kasus kematian Hind Rajab di Gaza.
GAZA – Kematian Dor Gedalia Ben Simhon, Komandan Batalion Ke-52 Brigade Lapis Baja Ke-401 Israel, di Lebanon selatan kembali menyorot rekam jejak unit militer tersebut dalam perang Israel di Gaza dan Lebanon.
Ben Simhon tewas bersama tiga tentara Israel setelah tank yang mereka gunakan menjadi sasaran dalam operasi di Lebanon selatan pada Jumat (19/06/2026), sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Sabtu, (20/06/2026).
Brigade Lapis Baja Ke-401 merupakan unit yang sebelumnya menjadi perhatian internasional karena dikaitkan dengan kematian Hind Rajab, anak Palestina berusia enam tahun, di Kota Gaza pada Januari 2024.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut Ben Simhon, warga Beit HaShita berusia 32 tahun, memimpin Batalion Ke-52. Ia menjadi bagian dari daftar komandan batalion tersebut yang tewas atau terluka sejak perang Israel berlangsung di Gaza dan Lebanon.
Berdasarkan laporan The Times of Israel, Ben Simhon menjadi komandan keempat Batalion Ke-52 yang tewas atau terluka sejak perang dimulai. Kondisi itu menunjukkan tingginya tekanan tempur yang dihadapi unit tersebut.
Sebelumnya, pada April 2026, militer Israel memanggil kembali Daniel Ela untuk bertugas sementara di Lebanon selatan setelah komandan Batalion Ke-52 lainnya terluka.
Ela juga pernah terluka di Gaza pada Juli 2024 saat memimpin batalion tersebut. Ia kemudian digantikan Yehuda Shalev, yang juga mengalami luka serius pada Oktober 2024. Komandan berikutnya yang bertugas di Lebanon juga dilaporkan terluka sebelum Ben Simhon mengambil alih komando.
Saluran 14 Israel sebelumnya melaporkan Ela telah memimpin Batalion Ke-52 dalam tiga kesempatan terpisah sejak Oktober 2023.
Selain rangkaian korban di jajaran komando, Batalion Ke-52 juga mendapat sorotan karena perannya dalam peristiwa tewasnya Hind Rajab. Anak itu meninggal setelah kendaraan yang ditumpanginya bersama sejumlah kerabat diserang pasukan Israel di Gaza.
Berdasarkan catatan yang terdokumentasi, Hind sempat selamat dari serangan awal dan terjebak di dalam mobil sambil berkomunikasi melalui telepon dengan petugas layanan darurat. Ambulans yang dikirim untuk menolongnya kemudian ditembak dan menewaskan paramedis. Jenazah Hind ditemukan 12 hari kemudian.
Pada Mei 2025, Yayasan Hind Rajab yang berbasis di Belgia mengajukan pengaduan ke Mahkamah Pidana Internasional terhadap Daniel Ela, mantan Komandan Batalion Ke-52, dan Beni Aharon, Komandan Brigade Lapis Baja Ke-401. Keduanya dituduh terkait dugaan kejahatan perang atas kematian Hind, anggota keluarganya, dan awak ambulans.
Investigasi Al Jazeera yang diterbitkan pada Oktober juga mengidentifikasi Ela dan Aharon sebagai perwira Israel yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Sementara itu, perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 terus menyisakan korban besar. Menurut data Palestina, lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 173.000 lainnya terluka. Sebagian besar infrastruktur sipil di Gaza juga dilaporkan hancur.
Meski gencatan senjata disebut telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, laporan mengenai serangan dan pembatasan Israel masih berlanjut. Situasi ini membuat kematian komandan Batalion Ke-52 di Lebanon selatan tidak hanya dipandang sebagai peristiwa militer, tetapi juga bagian dari rangkaian konflik yang masih menimbulkan sorotan hukum dan kemanusiaan internasional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan