WHO mempercepat respons wabah Ebola strain Bundibugyo di RD Kongo setelah 896 kasus terkonfirmasi dan 232 kematian tercatat, dengan pelacakan kontak menjadi kunci pengendalian.
BUNIA – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mempercepat respons kesehatan di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) setelah wabah Ebola strain Bundibugyo menyebar cepat dan menewaskan 232 orang dari 896 kasus terkonfirmasi.
Wabah yang mayoritas terjadi di Provinsi Ituri, RD Kongo, itu menjadi perhatian karena lebih dari 90 persen kasus terdeteksi di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata. Kondisi tersebut membuat pelacakan kontak, pemeriksaan, dan akses perawatan menjadi tantangan besar bagi tim kesehatan.
Kepala Penanganan Darurat WHO untuk Afrika Marie Roseline Belizaire mengatakan, situasi wabah masih serius dan berkembang cepat, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (20/06/2026).
“Wabah ini tetap serius dan berkembang sangat cepat,” kata kepala penanganan darurat WHO untuk Afrika, Marie Roseline Belizaire,
“Namun, saya telah melihat respons yang semakin kuat setiap hari,” ujarnya di Jenewa, berbicara dari pusat wabah tersebut di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, RD Kongo.
Otoritas RD Kongo mengumumkan kemunculan wabah Ebola pada 15 Mei 2026. Namun, penularan diduga telah berlangsung tanpa terdeteksi beberapa waktu sebelumnya.
Wabah ini disebabkan strain Bundibugyo yang tergolong langka. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk varian tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru WHO, terdapat 896 kasus terkonfirmasi di RD Kongo. Dari jumlah itu, 232 orang meninggal dunia, termasuk 21 kematian baru dalam 24 jam terakhir.
Penyebaran Ebola juga telah meluas dari Ituri ke Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Virus tersebut menular melalui kontak erat dan cairan tubuh orang yang terinfeksi.
Belizaire mengatakan, perkembangan epidemi yang cepat membuat respons kesehatan harus berpacu dengan penyebaran virus. Kapasitas perawatan telah ditingkatkan dari tidak ada tempat tidur khusus menjadi lebih dari 500 tempat tidur untuk pasien Ebola.
Tim pengawasan juga menyelidiki hampir 400 peringatan kasus dan mampu melakukan lebih dari 2.000 tes per hari. Upaya pelacakan kontak turut meningkat, dengan 75 persen kontak dari kasus yang diketahui telah berhasil dihubungi.
Meski begitu, WHO menilai pelacakan kontak harus mencapai 95 persen agar wabah dapat dikendalikan. Tantangan lain muncul karena sebagian warga yang sakit masih bertahan di rumah atau mendatangi tabib tradisional sebelum akhirnya pergi ke fasilitas kesehatan.
Di tengah tekanan wabah, sebanyak 78 orang dilaporkan pulih setelah tertular Ebola. Belizaire menyebut hal itu sebagai bukti bahwa diagnosis cepat dan akses layanan kesehatan yang baik dapat menyelamatkan nyawa.
Penanganan wabah Ebola di RD Kongo kini bergantung pada kecepatan deteksi kasus, perluasan layanan kesehatan, dan keberhasilan pelacakan kontak di wilayah terdampak konflik. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan