Rendahnya kunjungan masyarakat ke Posyandu membuat pemantauan anak berisiko stunting di Sangatta Utara belum sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan, meski 520 dari 542 anak tercatat telah mendapat intervensi RRG.
KUTAI TIMUR – Rendahnya partisipasi masyarakat membawa anak ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menjadi kendala dalam memantau secara menyeluruh kondisi anak berisiko stunting di Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Akibatnya, data yang dihimpun pemerintah kecamatan dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Camat Sangatta Utara Hasdiah Dohi mengatakan, tren anak berisiko stunting di wilayahnya dalam kurun waktu terakhir belum menunjukkan penurunan maupun peningkatan yang signifikan. Kondisi tersebut, menurut dia, salah satunya dipengaruhi rendahnya kunjungan masyarakat ke Posyandu.
“Kalau dibilang menurun itu tidak, dibilang naik juga tidak. Karena kenapa saya menyampaikan seperti itu, kita masalah masyarakat yang mau ke Posyandu itu masih kurang,” ujar Hasdiah di Kantor Camat Sangatta Utara, Sabtu (19/09/2026).
Hasdiah menjelaskan, sebagian warga lebih memilih membawa anak ke klinik atau rumah sakit yang fasilitas kesehatannya dijamin perusahaan tempat mereka bekerja. Kondisi itu menyebabkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak seluruhnya tercatat melalui jaringan Posyandu maupun Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
“Masyarakat untuk dilayani di Posyandu itu masalahnya banyak yang dijamin di perusahaan, itu kan ke klinik, ke rumah sakit. Nah, untuk ke Puskesmas dan ke Posyandu itu sangat kurang sekali, jadi itu tidak terpantau,” katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun melalui pelaporan berjenjang dari Posyandu, Puskesmas, desa hingga kecamatan, tercatat sebanyak 542 anak berisiko stunting di Sangatta Utara. Dari jumlah tersebut, 520 anak telah mendapatkan intervensi melalui program Rumah Rehab Gizi (RRG).
Hasdiah menilai data tersebut akan lebih akurat apabila seluruh orang tua secara rutin membawa anak ke Posyandu. Dengan cakupan pemeriksaan yang lebih luas, pemerintah dapat memperoleh gambaran lebih utuh mengenai kondisi tumbuh kembang anak dan menentukan intervensi yang diperlukan.
“Seandainya mereka itu menyatu di Posyandu, data itu mungkin bisa terealisasi semua dan kita bisa tahu, oh sekian keseluruhannya yang anak ini,” ujarnya.
Hasdiah berharap partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan Posyandu terus meningkat. Peningkatan kunjungan dinilai penting agar pemantauan tumbuh kembang anak dapat dilakukan lebih menyeluruh sekaligus memastikan data anak berisiko stunting yang menjadi dasar penanganan pemerintah benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan. []
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan