Operasi SAR terhadap Endang Suarman dihentikan setelah tim gabungan menyisir kawasan hutan Habaring Hurung dengan radius sekitar 30 kilometer tanpa hasil.
PALANGKA RAYA – Operasi pencarian terhadap Endang Suarman, lansia warga Desa Tangkiling yang hilang saat mencari kayu di kawasan hutan Kelurahan Habaring Hurung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, resmi dihentikan setelah beberapa hari penyisiran belum menemukan tanda keberadaan korban.
Keputusan penghentian operasi Pencarian dan Pertolongan (Search and Rescue/SAR) itu diambil pada Senin (11/05/2026). Tim gabungan sebelumnya telah menyisir kawasan hutan dengan radius sekitar 30 kilometer, termasuk menggunakan perangkat drone thermal untuk pemantauan dari udara, sebagaimana diberitakan Sb, Selasa (12/05/2026).
Endang dilaporkan hilang setelah berpamitan kepada keluarga untuk mencari kayu di kawasan hutan pada Selasa 5 Mei 2026 sekitar pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Namun, hingga malam hari, korban tidak kunjung kembali ke rumah.
Keluarga bersama warga sempat melakukan pencarian secara mandiri. Setelah upaya itu tidak membuahkan hasil, kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palangka Raya.
Koordinator Lapangan Basarnas Palangka Raya, Heru Kristianto, mengatakan tim SAR gabungan telah mengerahkan berbagai metode pencarian selama operasi berlangsung.
“Tim SAR gabungan sudah melakukan penyisiran di kawasan hutan dengan radius kurang lebih 30 kilometer, termasuk menggunakan drone thermal untuk pemantauan dari udara,” ujarnya, Selasa (12/05/2026).
Heru menjelaskan, pencarian tersebut melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya, Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah (Kalteng), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, aparat kelurahan, hingga warga sekitar.
“Operasi ini melibatkan Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya bersama unsur gabungan dan warga setempat,” jelasnya.
Meski penyisiran dilakukan secara intensif selama beberapa hari, korban belum juga ditemukan. Kondisi tersebut menjadi dasar evaluasi tim gabungan sebelum operasi SAR akhirnya ditutup.
“Sampai saat ini hasilnya masih nihil, korban belum berhasil ditemukan,” tambah Heru.
Ia menyebut, keputusan menutup operasi SAR diambil setelah dilakukan koordinasi dengan keluarga korban dan pemerintah setempat. Meski operasi resmi dihentikan, masyarakat di sekitar lokasi diharapkan tetap melapor apabila menemukan tanda atau informasi baru terkait keberadaan korban.
“Kami sudah berkoordinasi dengan keluarga dan pemerintah desa, dan disepakati untuk menutup operasi SAR,” pungkasnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan