Pernyataan kontroversial Menlu Selandia Baru kepada anggota parlemen keturunan China memicu kritik Dubes China dan memperkeruh dinamika hubungan diplomatik kedua negara.
WELLINGTON – Hubungan diplomatik Selandia Baru dan China kembali menjadi sorotan setelah Duta Besar (Dubes) China untuk Selandia Baru, Wang Xiaolong, melontarkan kritik terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Selandia Baru, Winston Peters, yang dinilai kontroversial saat berdebat dengan seorang anggota parlemen keturunan China.
Perselisihan bermula dalam sidang parlemen Selandia Baru pada Rabu (29/07/2026) ketika anggota Partai Hijau, Lawrence Xu-Nan, menanyakan status vaksinasi Peters dalam pembahasan mengenai respons pemerintah terhadap pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Menanggapi pertanyaan tersebut, Peters mengeluarkan pernyataan bernada keras kepada Lawrence Xu-Nan, yang lahir di Tianjin, China, dan dibesarkan di Auckland, Selandia Baru.
“Kembali sana ke negara Anda. Di sanalah mereka berbohong seperti ikan pipih, tetapi mereka tidak berbohong seperti itu di sini,” kata Peters, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (30/07/2026).
“Ini disebut demokrasi, tidak seperti yang Anda kenal. Kembali ke tempat asal Anda, dasar mulut besar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu reaksi Wang Xiaolong melalui media sosial X. Meski menyatakan enggan mencampuri urusan politik dalam negeri Selandia Baru, Wang menilai ucapan Peters mencerminkan sikap pribadi sang menteri.
“Cukuplah untuk mengatakan, terkadang, sebuah pernyataan lebih banyak mengungkapkan tentang orang yang mengucapkannya daripada apa pun atau siapa pun,” tulis Wang.
Peters kemudian membalas kritik tersebut melalui akun X. Menurutnya, tanggapan Wang justru menguatkan pandangannya mengenai perbedaan nilai demokrasi antara kedua negara.
“Kita hidup dalam demokrasi yang mencakup kebebasan berbicara dan hak-hak — dua nilai yang tidak hanya dibatasi oleh negara-negara tertentu, tetapi juga dilakukan dengan paksa,” tulis Peters.
Perdebatan yang bermula dari sidang parlemen itu berkembang menjadi polemik diplomatik yang kembali menyoroti sensitivitas hubungan Selandia Baru dan China, terutama terkait kebebasan berpendapat, politik domestik, dan hubungan bilateral kedua negara. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan