Plafon SDN 004 Sebatik Tengah Ambruk, Sekolah Desak Audit Bangunan

Ambruknya plafon ruang kelas 3 SDN 004 Sebatik Tengah mendorong pihak sekolah meminta audit teknis menyeluruh setelah kebocoran juga ditemukan di bagian lain bangunan.

NUNUKAN – Ambruknya plafon ruang kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 004 Sebatik Tengah di Desa Sei Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), memunculkan desakan agar pemerintah melakukan pemeriksaan teknis menyeluruh terhadap bangunan sekolah. Permintaan itu menguat setelah ditemukan kebocoran di ruangan lain, sementara sekolah mengaku belum pernah mendapatkan pemeriksaan struktur secara detail oleh tenaga ahli.

Plafon ruang kelas 3 tersebut ambruk pada Sabtu (05/09/2026) pagi. Tidak ada korban karena saat kejadian tidak berlangsung kegiatan belajar mengajar dan ruangan dalam keadaan kosong.

Peristiwa pertama kali diketahui seorang guru yang tinggal di perumahan sekolah setelah mendengar suara seperti benda jatuh. Guru tersebut kemudian mendatangi sekolah untuk memeriksa kondisi bangunan.

Pihak sekolah selanjutnya memeriksa rekaman closed-circuit television (CCTV). Rekaman kamera pengawas menunjukkan plafon ruang kelas 3 ambruk pada pagi hari.

Kepala SDN 004 Sebatik Tengah Sittiara Razak mengatakan, kerusakan sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda beberapa hari sebelum kejadian. Kebocoran pada atap semakin terlihat ketika hujan turun.

“Plafon kelas 3 bagian atas ada bocor dari sengnya, antara pertemuan seng dengan seng. Ketika hujan, air menetes setitik demi setitik membasahi plafon, akhirnya plafonnya ambruk,” kata Sittiara sebagaimana diberitakan Tribunkaltara, Minggu, (06/09/2026).

Menurut Sittiara, sekolah sebelumnya telah berupaya mencari tukang untuk memperbaiki atap yang bocor. Informasi mengenai kebutuhan tenaga perbaikan bahkan telah disampaikan melalui grup orang tua siswa, tetapi belum ada tukang yang bersedia mengerjakannya karena kondisi rangka atap dinilai mengkhawatirkan.

“Kerangkanya tipis semua. Mereka takut untuk naik ke atas, jadi tidak ada yang berani,” ungkapnya.

Masalah kerusakan plafon juga bukan kali pertama terjadi di sekolah tersebut. Sebelumnya, bagian plafon di area sekitar dapur dan akses menuju toilet guru pernah mengalami kerusakan dan telah dilaporkan kepada instansi terkait.

Sekolah kemudian mendapat arahan agar perbaikan dilakukan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) melalui anggaran rehabilitasi ringan. Anggaran pemeliharaan disebut telah tersedia, tetapi persoalan tenaga yang bersedia memperbaiki sumber kebocoran di bagian atap belum teratasi.

“Perbaikan kemarin cuma sekadar menambal dari bawah. Seng yang bocor itu tidak ada yang berani manjat,” ujarnya.

Persoalan serupa kini mulai terlihat di ruang kelas 6. Ketika hujan deras, air dilaporkan menetes dari bagian atap meskipun belum menimbulkan kerusakan sebesar yang terjadi di ruang kelas 3.

“Kelas 6 kalau hujan deras ada air menetes sedikit. Kalau kelas lain tidak ada, hanya di pintu WC masuk, kelas 3 dan kelas 6 ada air menetes sedikit saat hujan deras,” jelas Sittiara.

Berdasarkan pengamatan pihak sekolah, dinding, lantai, pintu, serta bagian lain bangunan masih terlihat dalam kondisi aman. Namun, penilaian tersebut belum didukung pemeriksaan teknis secara menyeluruh oleh tenaga yang memiliki kompetensi konstruksi.

Kondisi itu membuat pihak sekolah meminta pemerintah tidak hanya mengganti plafon yang ambruk, tetapi juga memeriksa keseluruhan bangunan untuk mengetahui tingkat keamanan fasilitas yang setiap hari digunakan siswa dan guru.

“Kami sebenarnya mau meminta pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan, bukan hanya sekadar plafon, termasuk dinding-dinding. Karena kami dari sekolah juga kurang paham terkait bangunan,” katanya.

Menurut Sittiara, sejak bangunan sekolah diserahkan dan digunakan untuk kegiatan pendidikan, pihaknya belum pernah mendapatkan pemeriksaan teknis secara detail. Sekolah pada saat itu menerima dan menggunakan bangunan karena kebutuhan ruang belajar siswa mendesak. Sebelumnya, siswa bahkan sempat mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menumpang di pasar.

Sekolah juga telah menyampaikan laporan mengenai kerusakan bangunan. Namun, Sittiara menyebut kontraktor maupun instansi teknis yang berkaitan dengan pembangunan belum pernah datang langsung untuk melakukan pemeriksaan.

“Ini kontraktor dan instansi teknis belum pernah datang. Walaupun sudah kami laporkan, kami hanya diarahkan untuk menyampaikan ke Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Sittiara juga belum mengetahui apakah bangunan tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan konstruksi maupun masih menjadi tanggung jawab kontraktor.

Meski belum ada pemeriksaan teknis menyeluruh, sekolah berencana kembali menggunakan ruang kelas 3 untuk kegiatan belajar mengajar setelah seluruh bagian plafon yang rusak dibongkar.

“Insya Allah besok tetap menggunakan ruang kelas 3 untuk proses pembelajaran karena plafonnya sudah kami buka,” kata Sittiara.

Namun, perbaikan selanjutnya tidak hanya diarahkan pada pemasangan plafon baru. Sumber kebocoran pada bagian atap seng harus terlebih dahulu diperiksa dan diperbaiki agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi.

“Bocornya dari seng, jadi pastinya pengecekan dari seng dulu, baru pasang plafon. Setelah kita perbaiki penyebab kerusakan, baru kami akan berusaha untuk anggarkan pemasangan plafon,” jelasnya.

Untuk pembiayaan, sekolah berencana memprioritaskan anggaran yang tersedia. Dana sekolah disebut telah berada di rekening masing-masing sekolah, tetapi perlu dilakukan penyesuaian dalam Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) agar pekerjaan perbaikan dapat diprioritaskan.

Sittiara berharap pemerintah segera mendatangkan tenaga ahli untuk memeriksa kondisi bangunan SDN 004 Sebatik Tengah secara menyeluruh sehingga keamanan fasilitas pendidikan tidak hanya dinilai dari kerusakan yang terlihat.

“Harapan saya kepada pemerintah, ketika memberikan bantuan berupa pembangunan fasilitas untuk sekolah, benar-benar diperhatikan. Jangan sampai hanya sekadar bantuan, tetapi manfaatnya justru bisa merugikan orang lain,” tuturnya.

Ia menilai pemeriksaan seharusnya dilakukan sebelum kerusakan berkembang hingga berpotensi membahayakan siswa maupun tenaga pendidik.

“Alangkah baiknya pemerintah bisa lebih cepat memeriksa secara menyeluruh. Jangan sampai fatal, ambruknya baru mau bergerak,” pungkasnya.

Untuk sementara, ruang kelas lainnya tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sekolah berharap pemeriksaan teknis dapat segera dilakukan sehingga kondisi atap, rangka, plafon, serta struktur bangunan lainnya dapat dipastikan aman sebelum kerusakan serupa terjadi di ruangan lain. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com