Gunung Binjai di Balikpapan Timur dinilai strategis dikembangkan sebagai agrowisata berbasis alam, edukasi, dan kuliner dengan dukungan swasta dan pemerintah.
BALIKPAPAN – Kawasan Gunung Binjai di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam dan edukasi pertanian. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan melalui Anggota Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Japar Sidik, mendorong agar pengembangan kawasan tersebut segera direalisasikan secara konkret dengan melibatkan sektor swasta.
Kawasan Gunung Binjai memiliki luas sekitar 97–98 hektare lahan persawahan, dengan sekitar 40 hektare di antaranya telah aktif ditanami padi. Sebagian lahan juga telah dilengkapi sistem irigasi yang terus dikembangkan. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan, sehingga berfungsi sebagai penyangga ketahanan pangan sekaligus memiliki peluang pengembangan ekonomi baru melalui sektor pariwisata.
Japar menyebut, hamparan persawahan yang luas membuka peluang besar untuk dikembangkan menjadi agrowisata berbasis alam, edukasi, dan kuliner. Konsep tersebut dapat mengadopsi model wisata pedesaan yang mengombinasikan aktivitas pertanian dengan pengalaman wisata keluarga.
“Di sana ada hamparan sawah, ada potensi taman, ini kalau dikembangkan bisa jadi wisata kuliner dan edukasi yang menarik,” ujarnya, Selasa (14/04/2026) di kantornya.
Ia menegaskan, pengembangan pariwisata di Balikpapan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemerintah daerah. Menurutnya, keterlibatan pihak swasta menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan infrastruktur serta menghadirkan inovasi destinasi wisata.
“Kalau hanya mengandalkan pemerintah, pasti terbatas. Harus ada keterlibatan swasta supaya bisa berkembang maksimal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Japar menyoroti tren penurunan kunjungan wisata di sejumlah destinasi, termasuk Pantai Manggar, yang disebut terdampak dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengembangkan alternatif wisata daratan.
Gunung Binjai dinilai memiliki prospek menjanjikan sebagai pusat agrowisata dengan konsep wisata sawah, edukasi pertanian, dan kuliner berbasis alam. Dari sisi produktivitas, kawasan ini mampu menghasilkan rata-rata sekitar 4,9 ton gabah kering panen per hektare, serta berpotensi panen hingga dua kali dalam setahun pada lahan beririgasi optimal.
Selain itu, kawasan tersebut telah didukung berbagai infrastruktur pertanian, seperti jalan usaha tani, jaringan irigasi, alat mesin pertanian, hingga fasilitas pengolahan hasil panen. “Potensinya besar kalau dikembangkan serius. Bisa seperti konsep wisata sawah dan kuliner yang menyatu dengan alam,” tambahnya.
Terkait penganggaran, Japar menyebut sektor pariwisata telah masuk dalam rencana kerja daerah tahun 2027 dengan estimasi anggaran sekitar Rp11 miliar. Namun, ia menilai angka tersebut masih perlu diperkuat karena pengembangan pariwisata tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga penguatan ekosistem dan inovasi destinasi.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa ribuan usulan masyarakat yang masuk melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tetap harus menjadi perhatian pemerintah, meskipun perlu disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah.
Ia berharap adanya peningkatan kapasitas anggaran daerah ke depan, termasuk melalui dukungan transfer dari pemerintah pusat, agar pengembangan sektor pariwisata dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
“Harapannya tentu anggaran ke depan bisa meningkat supaya pengembangan wisata ini bisa lebih luas lagi,” pungkasnya. []
Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan