Ukraina-Israel Saling Sindir soal Gandum, Hubungan Memanas

Saling tuding antara Ukraina dan Israel terkait dugaan gandum dari wilayah pendudukan memicu ketegangan diplomatik terbuka.

JAKARTA – Perselisihan diplomatik antara Ukraina dan Israel mencuat ke ruang publik setelah saling balas pernyataan antara pejabat tinggi kedua negara terkait dugaan masuknya gandum dari wilayah pendudukan Ukraina ke pelabuhan Israel.

Ketegangan ini dipicu laporan jurnalis proyek SeaKrime, Kateryna Yaresko, yang mengungkap dugaan kapal kargo Rusia Abinsk membawa gandum Ukraina yang disebut berasal dari wilayah yang diduduki. Proyek SeaKrime berada di bawah naungan Myrotvorets Center, organisasi independen yang menyelidiki kejahatan terhadap keamanan nasional Ukraina.

Dalam laporannya, Yaresko menyebut kapal tersebut tiba di pelabuhan Haifa, Israel, pada 12 April dengan membawa sekitar 43.765,18 ton gandum. Namun hingga informasi itu dipublikasikan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait mengenai asal muatan tersebut.

Situasi semakin memanas ketika Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyampaikan protes keras setelah muncul laporan kapal lain dengan muatan serupa juga berlabuh di Israel. Pemerintah Ukraina kemudian memanggil duta besar Israel di Kyiv untuk dimintai penjelasan.

“Sulit dipahami mengapa Israel tidak memberikan tanggapan yang sesuai terhadap permintaan resmi Ukraina terkait kapal yang sebelumnya mengantarkan barang curian ke Haifa,” kata Sybiha di platform media sosial X, sebagaimana diberitakan Detiknews, Rabu, (06/05/2026).

“Kini, setelah kapal lainnya dengan muatan serupa tiba di Haifa, kami sekali lagi memperingatkan Israel agar tidak menerima gandum curian tersebut dan untuk tidak merusak hubungan kedua negara.”

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyatakan bahwa tuduhan tersebut belum didukung bukti yang memadai dan menegaskan pihaknya akan melakukan penyelidikan sesuai hukum yang berlaku.

“Bukti yang mendukung tuduhan tersebut belum diserahkan,” tulisnya di X.

“Anda bahkan tidak mengajukan permohonan bantuan hukum sebelum menggunakan jalur media dan jejaring sosial,” katanya. “Hubungan diplomatik, terutama antara negara-negara sahabat, tidak dijalankan lewat Twitter atau media.”

Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan bahwa isu ini sebenarnya telah dibahas melalui jalur diplomatik sejak akhir Maret dan kembali pada 15 April, termasuk permintaan bantuan hukum internasional terkait kapal Abinsk.

Perseteruan terbuka ini menandai perubahan dinamika hubungan Ukraina dan Israel yang sebelumnya dikenal kooperatif, sekaligus memperlihatkan meningkatnya sensitivitas isu perdagangan dari wilayah konflik di tengah situasi geopolitik yang belum stabil. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com