Amerika Serikat memperkuat operasi militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan jet tempur F-35 dan F-16 setelah gencatan senjata dengan Iran kembali gagal dipertahankan.
WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan jet tempur generasi kelima Lightning II F-35 dan pesawat tempur F-16 di tengah kembali memanasnya konflik dengan Iran. Langkah tersebut dilakukan setelah gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua negara kembali runtuh.
Pesawat tempur F-16 dilaporkan diterbangkan dari Pangkalan Udara Spangdahlem di Jerman, sedangkan F-35 dipindahkan dari Pangkalan Udara Lakenheath di Inggris. Selain itu, AS juga mengirim pesawat pengisian bahan bakar di udara (tanker) untuk memperkuat operasi di kawasan konflik.
Ketegangan meningkat setelah militer AS kembali melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran sejak 8 Juli 2026. Sebelumnya, Washington dan Teheran menandatangani memorandum pada pertengahan Juni yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command / CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Sebaliknya, Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah serta menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan pada 9 Juli bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku. Pemerintah AS juga kembali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan eskalasi militer di Timur Tengah kembali meningkat dan berpotensi memperbesar risiko terhadap stabilitas kawasan maupun keamanan jalur perdagangan internasional, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (19/07/2026). []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan