Laut China Selatan Dinilai Lebih Berisiko bagi Ekonomi Dunia

Kajian terbaru menunjukkan Selat Malaka dan Selat Taiwan memiliki peran krusial dalam perdagangan dunia sehingga konflik di kawasan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global.

BEIJING – Potensi gangguan di Laut China Selatan dinilai dapat memicu dampak ekonomi global yang lebih luas dibandingkan sekadar penutupan Selat Hormuz. Kajian terbaru menunjukkan Selat Malaka dan Selat Taiwan menjadi dua jalur pelayaran paling vital yang menopang lebih dari seperlima perdagangan maritim dunia sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berisiko mengganggu rantai pasok internasional.

Kajian yang dipublikasikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa pada 2024 nilai perdagangan yang melintasi delapan selat utama di Laut China Selatan mencapai sekitar US$6,4 triliun. Dari jumlah tersebut, Selat Malaka dan Selat Taiwan masing-masing mengalirkan perdagangan senilai lebih dari US$2,4 triliun atau sekitar 21 persen perdagangan maritim global.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memunculkan ancaman terhadap Selat Hormuz. Situasi itu dinilai memperlihatkan bahwa jalur pelayaran strategis dapat menjadi instrumen tekanan geopolitik yang berdampak langsung terhadap perekonomian dunia.

Penelitian yang disusun Brian Hart dan Matthew P. Funaiole menyebutkan bahwa konflik di Laut China Selatan berpotensi menyebabkan gangguan besar terhadap arus perdagangan internasional. Ancaman penggunaan kekuatan militer oleh China terhadap Taiwan turut menempatkan Selat Taiwan sebagai salah satu titik panas geopolitik paling berisiko di dunia.

Selain itu, China dinilai menghadapi tantangan besar apabila terjadi gangguan di Selat Taiwan. Pada 2024 sekitar 33 persen impor dan 16 persen ekspor negara tersebut melewati jalur tersebut, sedangkan 21 persen impor dan 14 persen ekspornya melalui Selat Malaka.

“Amerika Serikat memang tidak secara langsung bergantung pada Laut Cina Selatan untuk sebagian besar perdagangannya, tetapi sekutu dan mitra utama AS sangat bergantung pada jalur perairannya, terutama Selat Taiwan,” sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Minggu (19/07/2026).

Bagi negara-negara sekutu AS seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, risiko gangguan di Selat Taiwan juga tergolong tinggi. Ketiga negara tersebut secara kolektif mengirimkan barang senilai sekitar US$755 miliar melalui Selat Taiwan dan sekitar US$474 miliar melalui Selat Malaka sepanjang 2024.

Ketergantungan terhadap Selat Malaka juga terlihat di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Enam negara Teluk Persia, yakni Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), mengandalkan jalur tersebut untuk lebih dari 40 persen ekspornya. Sementara itu, Eritrea mengirim sekitar 90 persen ekspornya ke Asia melalui Selat Malaka, sedangkan Djibouti, Ethiopia, dan Kenya menerima lebih dari 40 persen impornya melalui jalur yang sama. Kondisi ini menunjukkan stabilitas jalur pelayaran internasional menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran perdagangan global. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com