ilustrasi

3 Titik Panas Kepung Kaltara, Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang

BMKG mendeteksi 33 titik panas kategori sedang di Bulungan, Malinau, dan Tarakan ketika kabut asap akibat karhutla menurunkan jarak pandang di Kaltara hingga sekitar 3–4 kilometer.

BULUNGAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menekan jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) hingga sekitar 3–4 kilometer, Jumat (21/8/2026). Kondisi tersebut terjadi ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 33 titik panas kategori sedang yang tersebar di tiga kabupaten/kota.

Sebanyak 33 titik panas tersebut terpantau melalui satelit Terra, Aqua, Suomi National Polar-orbiting Partnership (S-NPP), dan National Oceanic and Atmospheric Administration-20 (NOAA-20). Sebarannya berada di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kota Tarakan.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan Dewi Paramitha, sebagaimana dilansir Antara, Jumat, (21/08/2026), mengatakan puluhan titik panas masih terdeteksi di Kaltara.

“Ada 33 titik panas di Kaltara berdasarkan Satelit Tera, Aqua, S-NPP dan NOAA20,” ujar Dewi Paramitha, Forcaster BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan di Tanjung Selor, Jumat.

Di wilayah Bulungan, titik panas antara lain terpantau di Tanjung Selor, Tanjung Palas, Tanjung Palas Timur, dan Peso Hilir. Titik panas juga masih terdeteksi di Tarakan dan Malinau.

“Masih tercatat titik panas di beberapa wilayah di Kaltara hari ini seperti di wilayah Tarakan, Malinau dan di Bulungan ada di Tanjung Selor, Tanjung Palas, Tanjung Palas Timur serta di Peso Hilir,” katanya.

Karhutla yang terjadi di Kaltara dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan turut berdampak terhadap kualitas udara dan jarak pandang. BMKG mencatat jarak pandang di Kaltara berada pada kisaran 3–4 kilometer akibat kabut asap.

“Untuk jarak pandang saat ini 3-4 meter yang mana untuk penerbangan khususnya pesawat besar tidak direkomendasikan,” ujar dia.

Potensi bertambahnya titik panas masih menjadi perhatian karena prakiraan cuaca pada 22–23 Agustus 2026 menunjukkan sebagian wilayah Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Malinau umumnya berada dalam kondisi cerah hingga cerah berawan.

Meski demikian, peluang hujan masih terdapat di beberapa wilayah Tana Tidung dan Malinau, terutama pada malam hingga dini hari.

“Untuk wilayah Tana Tidung dan Malinau berpotensi hujan ringan dan hujan disertai petir pada malam dan juga dini hari di beberapa wilayah,” katanya.

Di tengah meningkatnya potensi karhutla pada musim kemarau dan fenomena El Nino, Gubernur Kaltara Zainal A Paliwang meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun hutan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, menurut Zainal, telah menggerakkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kehutanan (Dishut) untuk melakukan sosialisasi sekaligus penanganan karhutla di lapangan.

“Kita berikan imbauan kepada masyarakat tentunya melalui dinas terkait, terutama BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Dinas Kehutanan (Dishut),” ujarnya di Tanjung Selor.

Zainal menekankan larangan pembakaran lahan karena musim kemarau telah berlangsung sekitar satu bulan di Kaltara. Kebakaran dinilai tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga memperburuk kualitas udara akibat kabut asap.

“Kita imbau untuk tidak membakar-bakar lagi. Karena ini sangat berbahaya dan akan berdampak luas, terutama habisnya lahan-lahan hutan kita, kemudian juga kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran ini akan merusak udara di sini,” katanya.

BPBD dan Dishut Kaltara juga telah disiagakan dan diterjunkan ke sejumlah lokasi untuk melakukan pemadaman serta mencegah kebakaran meluas.

“Jadi kita melalui dua dinas ini memberikan pemahaman dan imbauan kepada masyarakat untuk hati-hati terkait potensi bahaya kebakaran di saat cuaca panas seperti sekarang,” kata Zainal.

Dengan puluhan titik panas yang masih terdeteksi dan kondisi cuaca yang didominasi cerah hingga cerah berawan, kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan. Pencegahan pembakaran lahan dan respons cepat di titik kebakaran menjadi penting untuk menekan meluasnya kabut asap serta dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, dan aktivitas transportasi udara. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com