Dinkes Papua Tengah memperkuat kesiapsiagaan kesehatan setelah SKDR mendeteksi kenaikan kasus ISPA di tengah ancaman karhutla dan cuaca kering.
PAPUA TENGAH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah menyiapkan sekitar 60 ribu masker serta memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat untuk menghadapi potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kondisi cuaca kering.
Langkah tersebut dilakukan setelah Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) mulai menunjukkan adanya kenaikan kasus ISPA di wilayah Papua Tengah. Meski peningkatan belum tergolong signifikan, Dinkes memilih melakukan antisipasi lebih awal guna mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas.
“Data SKDR menunjukkan mulai ada kenaikan kasus ISPA walau belum signifikan, namun kami tidak boleh lengah,” tegas Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes Papua Tengah Agus di Nabire, Sabtu (22/8), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu (22/8/2026).
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, Dinkes menempatkan persediaan obat batuk dan vitamin di Instalasi Farmasi Provinsi. Selain itu, sebanyak 23 karton masker tiga lapis atau sekitar 60 ribu lembar telah disiapkan untuk kebutuhan masyarakat.
Petugas kesehatan juga ditugaskan membagikan sedikitnya 1.000 masker setiap hari di sejumlah ruang publik. Armada ambulans turut disiagakan untuk memberikan respons apabila terdapat warga yang mengalami gangguan pernapasan berat.
Upaya perlindungan masyarakat tetap dilakukan di tengah aktivitas warga. Pemerintah daerah masih mengizinkan pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Nabire karena kegiatan tersebut berkaitan dengan aktivitas ekonomi pedagang lokal dan mama-mama penjual.
Meski demikian, petugas medis tetap ditempatkan di lokasi CFD untuk membagikan masker dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Pelaksanaan CFD pada pekan berikutnya akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi kualitas udara.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan karena aktivitas tersebut berpotensi memperburuk kualitas udara di tengah kemarau dan ancaman asap karhutla. Warga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, memastikan sirkulasi udara hunian tetap baik, memperbanyak konsumsi air putih, serta menjaga asupan makanan bergizi.
Masyarakat diminta segera mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami batuk dan pilek lebih dari tiga hari, demam tinggi, napas cepat, sesak napas, atau perubahan warna kebiruan pada bibir maupun kulit. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila gejala gangguan pernapasan mulai memburuk. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan