Hujan ekstrem di Chiba memicu banjir, memutus aliran listrik, melumpuhkan kereta, dan membuat sekitar 6.000 penumpang terjebak semalaman di Bandara Narita.
CHIBA – Hujan ekstrem yang melanda Prefektur Chiba, Jepang timur, tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan transportasi dan memaksa ribuan penumpang bertahan semalaman di Bandara Narita. Sedikitnya enam orang dilaporkan meninggal hingga Jumat (14/8/2026), sementara puluhan ribu rumah tangga mengalami pemadaman listrik.
Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis (13/8) malam memicu banjir, ancaman tanah longsor, serta gangguan layanan kereta api. Kondisi tersebut membuat sekitar 6.000 penumpang terjebak di Bandara Narita, salah satu bandara utama yang melayani Tokyo.
Seorang penumpang yang tertahan di Narita menggambarkan situasi tersebut sebagai pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. “Saya tidak pernah berpikir akan menghabiskan malam di bandara, tetapi begitulah adanya dan kami sedang belajar,” katanya.
“Kami tidak akan pernah melupakan perjalanan ini,” katanya kepada Lembaga Penyiaran Jepang (NHK), sebagaimana dilansir AFP, Jumat, (14/08/2026).
Hujan ekstrem juga berdampak langsung terhadap jaringan transportasi. Sejumlah perjalanan kereta api dari dan menuju Narita dibatalkan hingga Jumat sore. Ratusan orang lainnya dilaporkan terlantar di Stasiun Chiba setelah layanan kereta dihentikan.
Di dalam terminal Narita, kantong tidur disediakan bagi penumpang yang harus bermalam. Antrean panjang juga terlihat di sejumlah area bandara. Sejumlah pengguna media sosial melaporkan staf bandara membagikan air minum, makanan, dan kantong tidur secara gratis.
Gangguan perjalanan bahkan membuat seorang wisatawan asal Inggris bernama Philip harus menempuh perjalanan sekitar sembilan jam, termasuk menggunakan taksi, sebelum tiba di Narita pada Jumat pagi.
Selain melumpuhkan transportasi, cuaca ekstrem tersebut menyebabkan kerusakan dan gangguan pada permukiman. Kantor Manajemen Bencana Prefektur Chiba mencatat hampir 26.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik.
Sebanyak 45 rumah terendam banjir di sejumlah kota, antara lain Ichikawa, Kashiwa, dan Sakura. Sedikitnya 39 rumah lainnya mengalami rembesan air hingga bagian bawah lantai.
Korban jiwa juga terus bertambah. Kantor Manajemen Bencana Prefektur Chiba sebelumnya melaporkan empat orang meninggal. Salah satunya pria berusia sekitar 60-70 tahun yang ditemukan mengambang di jalan yang tergenang banjir, sedangkan seorang perempuan berusia 66 tahun ditemukan di dalam kendaraan yang terendam.
Korban ketiga merupakan pria yang belum diketahui usianya dan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di jalan. Satu korban lainnya belum diketahui jenis kelamin maupun usianya.
Hingga Jumat siang waktu setempat, NHK melaporkan dua korban tambahan sehingga total korban meninggal mencapai enam orang.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) sebelumnya telah memperingatkan potensi curah hujan dengan intensitas luar biasa. Seorang pejabat JMA mengatakan kondisi tersebut “berpotensi menjadi curah hujan lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Peringatan hujan lebat tingkat tertinggi bahkan dikeluarkan untuk Chiba. Ini menjadi pertama kalinya peringatan dengan level tersebut diberlakukan di wilayah itu.
Seorang warga Ichikawa mengatakan pemadaman listrik menambah kekhawatiran masyarakat terhadap aktivitas mereka dalam beberapa hari mendatang.
“Ini terjadi tiba-tiba, jadi ini benar-benar mengejutkan. Listrik padam, jadi saya khawatir apakah saya dapat membuka usaha bisnis saya dalam beberapa hari ke depan,” kata seorang wanita di kota Ichikawa, Chiba kepada NHK.
Hujan ekstrem tersebut menunjukkan dampak berlapis dari cuaca buruk di Chiba, mulai dari korban jiwa dan kerusakan rumah hingga terganggunya mobilitas ribuan orang melalui salah satu pintu masuk utama Jepang. []
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan