Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut hingga 50.000 personel Korea Utara berpotensi ditempatkan di Rusia sebelum akhir November untuk mendukung operasi Moskow.
BERLIN – Rencana pengerahan puluhan ribu personel Korea Utara ke Rusia berpotensi mengubah konfigurasi dukungan militer Moskow dalam perang melawan Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut hingga 50.000 tentara Korea Utara berpeluang ditempatkan di Rusia sebelum akhir November, meski jumlah tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Informasi mengenai rencana penambahan pasukan itu muncul setelah intelijen militer Ukraina menyebut adanya kemungkinan pengerahan hingga 50.000 personel Korea Utara. Mereka diperkirakan ditempatkan di wilayah Kursk, Bryansk, dan Belgorod untuk menjalankan tugas yang memungkinkan pasukan Rusia lebih banyak diarahkan ke garis depan di Ukraina.
Zelenskyy sebelumnya menyatakan Rusia berupaya mendatangkan sekitar 30.000 tentara Korea Utara. Belakangan, ia menyebut Pyongyang disebut telah memutuskan mengerahkan antara 30.000 hingga 50.000 personel. Namun, ia tidak menjelaskan apakah angka tersebut termasuk pasukan Korea Utara yang telah berada di Rusia.
Pada Kamis (13/8/2026), kantor berita Jepang Kyodo News mengutip intelijen militer Ukraina yang mengonfirmasi adanya rencana penambahan pasukan tersebut. Berdasarkan informasi itu, pengerahan hingga 50.000 personel diperkirakan berlangsung sebelum akhir November.
Jika terealisasi, pengerahan tersebut akan menjadi salah satu bentuk dukungan militer terbesar Korea Utara kepada Rusia sejak kedua negara mempererat hubungan pertahanan. Rusia dan Korea Utara menandatangani pakta pertahanan pada musim panas 2024, sebelum Pyongyang mulai mengirim pasukan tempur ke Rusia beberapa bulan kemudian.
Para analis memperkirakan sekitar 14.000 hingga 15.000 personel Korea Utara telah dikerahkan, terutama ke wilayah Kursk. Korea Utara kemudian menyetujui pengiriman sekitar 6.000 personel tambahan yang terdiri atas pasukan zeni dan pekerja konstruksi militer.
Selain personel, Korea Utara juga disebut memasok jutaan amunisi artileri dan rudal balistik kepada Rusia. Badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 6.000 tentara Korea Utara telah tewas atau terluka sejak terlibat dalam konflik tersebut.
Sebagaimana diberitakan DW, Jumat (14/8/2026), anggota parlemen Korea Selatan Yu Yong-weon mengatakan kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang terus berkembang. Yu, yang sebelumnya bekerja sebagai jurnalis militer, mengaku telah mendengar informasi mengenai rencana penambahan pasukan Korea Utara saat kunjungannya pada Februari lalu.
“Saya khawatir rencana ini benar-benar akan menjadi kenyataan,” kata Yu kepada DW.
Menurut Yu, pengerahan 30.000 hingga 50.000 personel akan jauh lebih besar dibandingkan pengerahan awal yang mencakup sekitar 20.000 pasukan dan personel pendukung.
Meski demikian, Yu belum dapat memastikan apakah pengerahan dalam skala tersebut benar-benar akan terjadi. Ia menilai perkembangan hubungan pertahanan kedua negara tetap menjadi perhatian bagi Seoul.
“semakin eratnya kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskow patut menjadi perhatian serius pemerintah serta militer Korea Selatan”.
Zelenskyy juga menyebut Korea Utara memperoleh pengalaman dalam peperangan modern melalui keterlibatannya dalam konflik tersebut. Ia mendorong Korea Selatan meningkatkan kerja sama dengan Ukraina, khususnya dalam pertahanan udara dan teknologi drone.
Beberapa hari setelah pernyataan itu, Zelenskyy kembali mengeklaim Rusia menerima tambahan rudal balistik dari Korea Utara yang disebut digunakan dalam serangan terhadap Zaporizhzhia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama militer Moskow-Pyongyang tidak hanya berkaitan dengan pengerahan personel, tetapi juga mencakup dukungan persenjataan. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan