TEHERAN – Di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa Teheran tidak mencari peperangan, namun siap menghadapi konfrontasi jangka panjang jika dipaksa.
Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, dalam pernyataannya yang dikutip media pemerintah Press TV pada Selasa (03/03/2026), menekankan bahwa Iran telah menyiapkan diri untuk skenario konflik berkepanjangan.
Menurutnya, Iran memiliki kesiapan strategis yang berbeda dibandingkan Amerika Serikat. Ia menyebut negaranya telah membangun fondasi pertahanan untuk menghadapi perang dalam durasi panjang.
“Kami tidak pernah menjadi pihak yang memulai peperangan. Namun jika konflik dipaksakan kepada kami, Iran telah menyiapkan seluruh kapasitasnya untuk menghadapi perang yang tidak singkat,” ujarnya melalui platform X.
Larijani juga membantah tudingan bahwa Iran melakukan agresi ofensif. Ia menegaskan seluruh operasi militer yang dilakukan semata-mata bersifat defensif.
“Selama berabad-abad, negeri ini tidak memulai peperangan. Angkatan bersenjata kami tidak menjalankan operasi penyerangan, melainkan bertindak untuk melindungi kedaulatan dan rakyat,” tegasnya.
Ia bahkan menyampaikan peringatan keras kepada pihak yang dianggap sebagai lawan Iran. Dalam pernyataannya, Larijani menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan diri dan warisan peradabannya tanpa kompromi.
“Kami akan menjaga kehormatan dan peradaban kuno kami, apa pun konsekuensinya. Mereka yang salah menghitung langkahnya akan menghadapi penyesalan,” katanya.
Pernyataan itu muncul setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel pada Sabtu (28/2), yang disebut menandai babak baru eskalasi di kawasan. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan, saat Teheran tengah menjalani proses diplomasi terkait program nuklirnya.
Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah titik kawasan.
Analis menilai pernyataan Larijani menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya bersiap untuk konfrontasi jangka pendek, tetapi juga kemungkinan perang berkepanjangan. Dengan retorika yang semakin keras dari kedua kubu, stabilitas kawasan kini berada di titik paling rawan dalam beberapa bulan terakhir. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan