Pejabat AS dan Iran saling sindir di media sosial dengan unggahan militer saat negosiasi kedua negara belum menunjukkan kemajuan nyata.
WASHINGTON – Ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencuat setelah pejabat kedua negara saling sindir di media sosial dengan memamerkan kemampuan militer masing-masing di tengah belum tercapainya kesepakatan negosiasi.
Perang kata-kata itu melibatkan Kepala Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino. Keduanya saling membalas unggahan terkait pesawat pengebom, rudal, hingga tudingan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Cekcok bermula ketika Scavino mengunggah video pesawat pengebom B-2 Spirit pada 23 Mei 2026. Azizi kemudian membalas unggahan itu dengan video peluncuran rudal Iran yang disebut menghantam target secara presisi, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat (05/06/2026).
Pada 2 Juni 2026, Scavino kembali mengunggah gambar jam pasir yang dipahami sebagai isyarat agar Iran segera menyepakati negosiasi. Dua hari kemudian, Azizi membalas dengan video uji coba rudal Kheibar Shekan disertai keterangan: “Kita lihat apa yang akan terjadi!”
Scavino kemudian merespons dengan menyebut video tersebut sebagai rekayasa AI.
“LOL, kecerdasan buatan itu omong kosong, sama seperti bunker bawah tanahmu di ___________!” tulis Scavino.
Azizi tidak tinggal diam. Ia membalas dengan sindiran mengenai situasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
“Apakah evakuasi hampir 9.000 warga Amerika dan penghancuran pangkalan militer Anda di wilayah (Timur Tengah) juga merupakan AI? :)” tulis Azizi.
Ketegangan digital itu terjadi saat AS dan Iran belum mencapai kesepakatan setelah beberapa putaran pembicaraan dilakukan sejak gencatan senjata pada 8 April 2026. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (03/06/2026) menyatakan belum ada kemajuan nyata dalam negosiasi.
Araghchi mengatakan jalur komunikasi dengan AS masih terbuka. Namun, ia memperingatkan setiap serangan terhadap Lebanon dapat memicu kembalinya konflik AS-Iran secara penuh.
Situasi juga dipengaruhi perkembangan di Lebanon. Lebanon dan Israel disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata pada Rabu, meski sebelumnya Israel menyerang Lebanon selatan hingga menewaskan satu personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Hizbullah pada Kamis (04/06/2026) menyatakan menolak perpanjangan gencatan senjata karena menilai persetujuan terhadap perjanjian tersebut sama dengan menyerahkan diri.
Perang pernyataan di media sosial itu menunjukkan rapuhnya komunikasi politik antara AS dan Iran. Di tengah belum jelasnya hasil negosiasi, saling pamer kekuatan militer dikhawatirkan dapat memperbesar ketegangan di kawasan Timur Tengah. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan