KUBU RAYA – Dukungan nyata pemerintah pusat untuk pembangunan rumah ibadah kembali ditunjukkan. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyerahkan bantuan senilai Rp 500 juta untuk pembangunan Gereja Katolik Santo Petrus dan Santo Paulus di Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (02/03/2025) malam. Penyerahan dilakukan saat kunjungan kerja Maruarar bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Di sela agenda peninjauan permukiman kumuh di Parit Baru, Maruarar menyempatkan diri melihat progres pembangunan gereja yang sempat menuai polemik di tengah masyarakat. Didampingi Bupati Kubu Raya Sujiwo, Maruarar meninjau lokasi yang kini berada pada tahap perencanaan desain dan pengurusan izin.
“Keragaman adalah kekuatan kita. Bahasa kita banyak, suku kita beragam, dan keyakinan kita berbeda-beda, tapi semua harus dihormati. Kalau kita saling menghargai, komunikasi baik, maka Indonesia akan tetap rukun,” ujar Maruarar.
Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan, pembangunan gereja tetap mengikuti aturan yang berlaku. Ia meminta panitia segera menyelesaikan proses perizinan agar pembangunan dapat dimulai begitu administrasi rampung.
“Pembangunan gereja ini sedang berjalan secara prosedural. Saya minta panitia segera tuntaskan izin, sesuai tahapan dan mekanisme yang ada. Pemerintah daerah tetap memberi perhatian penuh,” kata Sujiwo.
Terkait polemik sebelumnya, Sujiwo menekankan bahwa itu hanyalah miskomunikasi yang sudah diluruskan lewat dialog terbuka. “Saya terikat sumpah untuk menjaga Pancasila dan UUD 1945. Perbedaan itu indah, dan kekuatan kita ada pada perbedaan itu,” tegasnya. Pemerintah daerah juga menjamin dukungan penuh, termasuk akses jalan menuju lokasi dan tanggung jawab terhadap kerusakan akibat kegiatan pembangunan.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja, Pastor Jensi, menyebut bahwa rumah ibadah ini dirancang menampung 800 hingga 1.000 umat dengan perkiraan anggaran Rp 10 miliar. Bantuan Rp 500 juta dari pemerintah pusat menjadi modal awal yang sangat berarti bagi panitia.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tapi juga penguatan iman dan kehidupan sosial umat. Kami berharap gereja ini bisa menjadi simbol persaudaraan, toleransi, dan keharmonisan di Kubu Raya,” kata Pastor Jensi.
Saat ini, desain dan perizinan tengah diselesaikan. Panitia menargetkan peletakan batu pertama pada Juli 2026. Dukungan pemerintah pusat maupun daerah diharapkan menjadikan pembangunan ini sebagai contoh nyata sinergi dan penguatan toleransi antarumat beragama. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan