Gambar Ilustrasi

Leher Tersayat, Kasus Kematian Nanang di Katingan Belum Terungkap

KATINGAN — Misteri kematian Nanang Kasmiran di Desa Teluk Sebulu, Kecamatan Mendawai, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Meski peristiwa tragis itu terjadi pada 19 November 2025, keluarga korban mengaku hingga awal Maret 2026 belum memperoleh kepastian mengenai siapa pelaku di balik kematian tersebut.

Nanang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan, yakni terdapat luka sayatan di bagian leher. Sejak saat itu, kasus tersebut masih menyelimuti keluarga korban dengan ketidakpastian.

Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum peristiwa terjadi Nanang berada di Desa Teluk Sebulu untuk membantu pekerjaan pembangunan rumah milik kerabat dari pihak ibunya. Ia telah tinggal di lokasi tersebut selama kurang lebih dua minggu.

Selama berada di desa itu, Nanang menempati sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 5×4 meter. Rumah tersebut dibagi menjadi dua bagian menggunakan sekat papan. Ia tinggal bersama seorang keponakan perempuan berinisial S (15).

Pada malam sebelum kejadian, Nanang masih sempat menerima kunjungan dari salah satu saudaranya sekitar pukul 20.00 WIB. Pertemuan tersebut berlangsung singkat sebelum tamu tersebut pulang sekitar satu jam kemudian.

Setelah itu, Nanang dan keponakannya kembali berada di rumah tersebut hanya berdua.

Beberapa saat kemudian, keponakan korban mendatangi kamar Nanang dan mendapati kondisi yang mengejutkan. Di dalam ruangan tersebut terlihat darah yang sudah berceceran di lantai, sementara sebilah pisau ditemukan berada di balik bantal. Namun, korban tidak berada di tempat tersebut.

Dalam keadaan panik, S segera menghubungi keluarga yang rumahnya berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Kabar tersebut dengan cepat menyebar sehingga warga berdatangan untuk membantu melakukan pencarian terhadap korban.

Pencarian berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, ketika seorang warga yang melintas menggunakan kelotok kecil dari arah sungai hulu mengaku melihat seseorang di sekitar kawasan sungai dekat hutan desa.

Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti warga dengan menuju lokasi yang dimaksud. Di tempat itulah korban akhirnya ditemukan.

Sementara itu, kakak kandung korban, Supriyanto, yang saat itu berada di Palangka Raya, baru mengetahui kabar tersebut sekitar pukul 02.00 WIB dini hari setelah dihubungi oleh keluarganya di Kabupaten Katingan.

Dalam situasi panik, keluarga yang berada di lokasi sempat membereskan area rumah sebelum pihak kepolisian tiba.

Sejak kejadian itu dilaporkan kepada pihak berwajib, keluarga berharap kasus tersebut dapat segera terungkap.

Namun hingga memasuki bulan Maret 2026, keluarga mengaku belum mendapatkan perkembangan signifikan terkait proses penyelidikan.

Supriyanto mengatakan keluarga sebenarnya telah mencoba menerima kenyataan atas kepergian korban. Namun mereka tetap berharap penyebab kematian Nanang dapat diungkap secara jelas.

“Kami sudah berusaha menerima kepergian adik kami, tetapi kami ingin mengetahui siapa pelaku dan apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Supriyanto pada Kamis (05/03/2026).

Ia menambahkan bahwa keluarga merasa masih berada dalam ketidakpastian sejak kasus tersebut dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Menurutnya, proses penyelidikan yang belum menunjukkan perkembangan membuat keluarga terus menunggu jawaban atas peristiwa yang menimpa Nanang.

“Sudah empat bulan kami menunggu tanpa kepastian. Adik kami datang ke sana untuk bekerja, tetapi akhirnya meninggal dunia. Kami hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Keluarga korban berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap misteri di balik kematian tersebut agar kasus ini menemukan titik terang. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com