Biaya Perang Tembus Rp62 Triliun, Iran-AS-Israel Terjebak Eskalasi

WASHINGTON – Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus menunjukkan eskalasi serius setelah memasuki hari kedelapan pada Sabtu (07/03/2026). Serangan rudal, drone, serta operasi militer di sejumlah wilayah strategis Timur Tengah masih berlangsung hampir setiap hari.

Ketegangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan terbuka antarnegara, tetapi juga telah menyasar kepentingan strategis seperti infrastruktur energi dan pangkalan militer di kawasan Teluk.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran meningkatkan serangan balasan terhadap berbagai target yang berkaitan dengan Amerika Serikat. Target tersebut antara lain kapal tanker milik perusahaan Amerika di perairan Kuwait serta fasilitas kilang minyak di Bahrain.

Militer Iran melalui Markas Pusat Khatam Al Anbiya menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari strategi balasan terhadap serangan yang lebih dulu dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan militer Iran yang disiarkan oleh televisi pemerintah menyebutkan bahwa operasi drone tempur juga diarahkan ke sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk.

“Unit drone angkatan laut angkatan bersenjata menargetkan lokasi pasukan Amerika Serikat di Camp Udairi, Kuwait, menggunakan drone tempur,” demikian pernyataan militer Iran yang dikutip media pemerintah.

Selain itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengeklaim bahwa serangan yang mereka lancarkan berhasil merusak sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan yang dikutip dari media Al Jazeera, IRGC menyebut sedikitnya 20 aset militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran.

Di sisi lain, Israel mempertahankan posisinya terkait operasi militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada awal konflik. Pemerintah Israel menilai tindakan tersebut dapat dibenarkan dalam kerangka hukum perang internasional.

Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa dalam konteks konflik bersenjata seorang pemimpin yang memiliki kendali militer dapat menjadi sasaran yang sah.

“Berdasarkan hukum internasional tentang konflik bersenjata, komandan militer yang memimpin angkatan bersenjata selama perang dapat menjadi target militer yang sah,” kata Shoshani.

Ia juga menegaskan bahwa Ali Khamenei memiliki posisi strategis dalam struktur militer Iran.

“Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei menjabat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran dan merupakan pengambil keputusan akhir dalam operasi militer,” ujarnya.

Sementara itu, laporan dari lembaga riset Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa biaya operasi militer yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Israel dalam fase awal perang sangat besar.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa dalam 100 jam pertama operasi militer, kedua negara telah menghabiskan sekitar 3,7 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp62 triliun.

Di tengah meningkatnya ketegangan, konflik ini juga membawa dampak ekonomi bagi sejumlah negara lain. Pemerintah Rusia bahkan menyatakan bahwa perang di Timur Tengah justru memicu peningkatan permintaan energi Rusia di pasar global.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa perubahan dinamika geopolitik di kawasan telah berdampak pada pasar energi dunia.

“Kami melihat adanya peningkatan signifikan dalam permintaan terhadap sumber energi Rusia seiring dengan perang yang terjadi di Iran,” kata Peskov.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya menjadi perang regional, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan geopolitik dan ekonomi global. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com