Di Balik Ramainya Mudik Pantura, Warga Berebut Uang di Jalan

JAWA BARAT – Arus mudik Lebaran 2026 kembali menghadirkan fenomena yang hampir selalu muncul setiap tahun di jalur Pantai Utara (Pantura), khususnya di kawasan Jembatan Sewo yang menjadi perbatasan Kabupaten Subang dan Indramayu, Jawa Barat. Di tengah padatnya lalu lintas kendaraan pemudik, ratusan warga terlihat memadati sisi jalan sambil membawa sapu lidi untuk mengais uang yang dilempar pengendara.

Pemandangan tersebut terlihat pada Minggu (15/03/2026), ketika masyarakat dari berbagai usia berkumpul di sepanjang ruas jalan dekat jembatan. Mereka berdiri di tepi jalan bahkan hingga mendekati badan jalan raya, menunggu pengendara yang melintas melemparkan koin atau uang kertas.

Setiap kali uang dilempar dari kendaraan, warga langsung bergerak cepat. Dengan menggunakan sapu lidi, mereka berusaha menarik uang yang jatuh di aspal sebelum direbut oleh orang lain. Tidak jarang mereka harus masuk ke jalur kendaraan yang masih dilalui kendaraan pemudik.

Kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna jalan. Selain mengganggu kelancaran arus lalu lintas, aktivitas tersebut juga dinilai berpotensi menimbulkan kecelakaan di jalur mudik yang sedang ramai.

Salah seorang pemudik, Adi, mengaku fenomena itu cukup mengganggu perjalanan. Meski demikian, ia menilai kebiasaan tersebut kemungkinan sudah menjadi tradisi masyarakat setempat setiap musim mudik.

“Kalau menurut saya memang agak mengganggu perjalanan. Tapi mungkin bagi mereka sudah seperti kebiasaan setiap tahun,” kata Adi di Indramayu, Minggu (15/03/2026).

Ia juga mengakui bahwa melempar uang dari kendaraan sebenarnya memiliki risiko tersendiri. Menurutnya, tindakan tersebut dapat memicu situasi berbahaya bagi pengguna jalan lain, terutama kendaraan yang berada di belakang.

“Kalau dipikir-pikir, melempar uang itu juga bisa membahayakan. Bisa saja pengendara lain yang di belakang ikut terdampak,” ujarnya.

Pemerintah dan aparat sebenarnya telah berulang kali melakukan berbagai upaya untuk mengurangi praktik tersebut. Di beberapa titik bahkan telah dipasang rambu yang melarang pengendara melemparkan uang di jalan raya. Selain itu, petugas juga beberapa kali memberikan imbauan kepada masyarakat.

Namun demikian, fenomena “penyapu uang” ini seolah menjadi siklus tahunan yang sulit dihilangkan. Faktor ekonomi menjadi alasan utama sebagian warga tetap melakukan aktivitas tersebut meski menyadari risiko yang ada.

Salah seorang warga yang ikut mengais uang, Samsiah, mengakui bahwa dirinya sebenarnya merasa khawatir berada di tengah lalu lintas kendaraan. Namun kondisi ekonomi memaksanya untuk tetap berada di lokasi tersebut.

Ia mengatakan rasa takut tetap ada, tetapi keadaan membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. “Sebenarnya takut juga, apalagi kendaraan lewat terus. Tapi bagaimana lagi, kondisi ekonomi memaksa kami untuk tetap mencari uang di sini,” tutur Samsiah.

Fenomena ini kembali menjadi sorotan setiap musim mudik. Selain menyangkut tradisi lokal, praktik tersebut juga memunculkan perdebatan tentang keselamatan, kemanusiaan, serta persoalan ekonomi masyarakat di sekitar jalur mudik Pantura. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com