WASHINGTON – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana “mengambil alih” Kuba memicu perhatian internasional di tengah krisis listrik yang melanda negara tersebut akibat tekanan ekonomi dan embargo energi.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat kondisi Kuba tengah mengalami pemadaman listrik total yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat dan sektor ekonomi. Krisis tersebut memperburuk situasi negara Karibia itu yang telah mengalami tekanan berkepanjangan.
“Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir AFP, Selasa, (17/03/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Trump menyatakan keyakinannya terhadap kemungkinan langkah tersebut.
“Saya percaya saya akan…mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba,” imbuh Trump.
Ia menilai kondisi Kuba saat ini berada dalam posisi lemah sehingga membuka peluang bagi intervensi AS.
“Entah saya membebaskannya, mengambilnya-atau berpikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini,” katanya.
Kondisi tersebut dipicu oleh pemadaman total jaringan listrik nasional yang diumumkan oleh Union Nacional Electrica de Cuba (UNE). Gangguan ini terjadi di tengah memburuknya sistem pembangkit listrik yang sudah tua, dengan pemadaman harian yang bahkan mencapai 20 jam di sejumlah wilayah.
Krisis energi semakin parah setelah pasokan minyak ke Kuba terhenti sejak 9 Januari 2026, seiring kebijakan embargo yang diberlakukan AS. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga memukul sektor transportasi dan pariwisata, termasuk pengurangan penerbangan ke pulau tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, Pemerintah Kuba mulai membuka peluang investasi bagi warga negara Kuba yang tinggal di luar negeri. Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba sekaligus Wakil Perdana Menteri Oscar Perez-Oliva menyampaikan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi.
“Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS” dan “juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka,” katanya.
Sementara itu, laporan The New York Times menyebutkan adanya sinyal dari pejabat pemerintahan Trump yang menginginkan perubahan kepemimpinan di Kuba, termasuk mendorong Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel untuk lengser dari jabatannya.
Pernyataan Trump tersebut dinilai sebagai salah satu sikap paling tegas terhadap Kuba dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketegangan politik di kawasan Amerika Latin serta memicu kekhawatiran terhadap stabilitas regional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan