Candaan Donald Trump menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” muncul di tengah konflik global yang berdampak pada jalur distribusi minyak dunia.
MIAMI – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam forum bisnis internasional memicu sorotan, setelah ia menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” di tengah memanasnya konflik global terkait jalur energi tersebut.
Ucapan itu disampaikan Trump saat berbicara dalam forum Future Investment Initiative yang digelar di Miami, Florida, pada Jumat (27/03/2026) waktu setempat. Dalam sesi tersebut, ia menyinggung pentingnya jalur pelayaran minyak dunia yang kini terdampak konflik antara AS, Israel, dan Iran. “Mereka harus membuka Selat Trump — maksud saya, Selat Hormuz,” ujarnya dengan nada bercanda.
Pernyataan tersebut sontak disambut tawa para peserta forum. Trump kemudian menambahkan komentar bernada humor sambil menanggapi potensi reaksi publik terhadap ucapannya. “Maafkan saya. Saya minta maaf. Kesalahan yang sangat buruk. Berita palsu akan mengatakan, ‘Dia secara tidak sengaja mengatakannya’. Tidak ada kecelakaan dengan saya, tidak terlalu banyak. Jika ada, itu akan menjadi berita besar,” ucap Trump.
Di balik candaan itu, Trump menegaskan dorongan agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menuju kesepakatan damai. Ia juga mengklaim bahwa Teheran sebenarnya siap bernegosiasi, meskipun pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap resmi sejumlah pejabat Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari. Dalam konflik yang kini memasuki bulan kedua, Iran dilaporkan memblokir jalur tersebut sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel.
Langkah itu berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi dan memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia. Isu penguasaan jalur strategis ini bahkan disebut menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, wacana kontroversial juga muncul ketika Trump dilaporkan mempertimbangkan opsi mengambil kendali atas Selat Hormuz dan mengganti namanya. Laporan tersebut, sebagaimana dilansir AFP dan CNBC, Sabtu, (28/03/2026), dan diberitakan Detiknews, menyebutkan kemungkinan penggunaan nama “Selat Amerika” atau bahkan “Selat Trump”.
Kontroversi penamaan ini bukan kali pertama dilakukan Trump. Dalam beberapa kesempatan, ia juga diketahui sempat melontarkan candaan serupa terkait perubahan nama gedung, termasuk John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington DC.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana isu strategis global kerap dibingkai dengan gaya komunikasi khas Trump, yang memadukan humor dengan pesan politik, sekaligus memicu perdebatan di tengah situasi konflik yang masih berlangsung. []
Penulis: Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan