Pantai Tanah Merah Berpotensi Unggulan, Butuh Perhatian Pemerintah

Pantai Tanah Merah di Kukar memiliki potensi wisata besar, namun terkendala fasilitas, pengelolaan, dan minimnya dukungan pengembangan.

KUTAI KARTANEGARA – Pantai Tanah Merah di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan. Namun, keterbatasan fasilitas, minimnya pengelolaan, serta belum optimalnya dukungan pengembangan menjadi tantangan utama dalam meningkatkan daya tarik kawasan tersebut.

Pantai yang berjarak sekitar 50 menit dari Kota Samarinda ini menawarkan panorama laut jernih, hamparan pasir luas, serta pepohonan hijau yang menciptakan suasana sejuk dan alami. Dengan tiket masuk sekitar Rp10.000 per orang dan biaya parkir Rp5.000 hingga Rp10.000, lokasi ini menjadi pilihan wisata keluarga maupun pengunjung yang mencari ketenangan.

Sugeng, petugas keamanan dan kebersihan Pantai Tanah Merah Tanjung Harapan, mengatakan keterlibatan pihaknya baru berjalan sekitar lima bulan sejak penetapan surat keputusan (SK) pada November 2025. Ia menjelaskan, tugas mereka lebih difokuskan pada operasional sore hingga malam hari untuk menjaga aktivitas wisata tetap berjalan. “Kalau kami tidak membantu, otomatis setelah pukul 16.30 aktivitas di sini berhenti. Tidak ada kegiatan malam,” kata Sugeng, Minggu (12/04/2026).

Menurut Sugeng, jumlah petugas dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar sangat terbatas, yakni hanya dua orang yang bertugas pada siang hari. Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya pengelolaan kawasan, terutama dalam pelayanan dan pengawasan.

Dari sisi kunjungan, ia menyebut jumlah wisatawan cenderung fluktuatif. Pada hari biasa, pengunjung hanya berkisar 50 hingga 100 orang per hari. Namun, lonjakan signifikan terjadi pada momen tertentu seperti libur Lebaran. “Waktu Lebaran, pengunjung bisa mencapai sekitar 1.500 orang dalam sehari pada puncaknya,” ujarnya.

Meski demikian, peningkatan jumlah kunjungan tersebut belum diimbangi dengan pengembangan fasilitas. Sugeng mengungkapkan hingga saat ini belum ada alokasi langsung dari pendapatan tiket untuk peningkatan sarana di lokasi. “Untuk bagi hasil dari tiket, tidak ada untuk kami. Pengembangan juga belum ada, masih seperti ini saja,” katanya.

Sebagian fasilitas dasar, seperti toilet, justru dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan peran aktif warga dalam mendukung keberlangsungan wisata meski tanpa dukungan infrastruktur memadai.

Keluhan juga datang dari pengunjung. Dalfin, wisatawan asal Sebulu, menilai kondisi pantai cukup baik, tetapi masih terkendala persoalan kebersihan. “Pantainya bagus, tapi sampah masih banyak. Tempat sampahnya kurang, jadi perlu ditambah,” ujarnya.

Di sisi lain, pelaku usaha mikro di kawasan tersebut turut merasakan dampak fluktuasi kunjungan. Salah satu pedagang mengaku jumlah pembeli tidak menentu, bahkan pada akhir pekan. “Sekarang justru sering sepi, bahkan hari Minggu pun bisa sepi,” katanya.

Menurutnya, minimnya wahana atau atraksi tambahan menjadi salah satu penyebab rendahnya minat kunjungan. Berbeda dengan destinasi lain yang menawarkan aktivitas seperti jet ski atau banana boat, Pantai Tanah Merah masih mengandalkan keindahan alam.

Sugeng menilai diperlukan sinergi antara pemerintah dan investor untuk meningkatkan daya saing destinasi tersebut. “Kalau ada kerja sama dengan investor untuk menambah wahana, tentu bisa lebih ramai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan akses jalan dan penambahan fasilitas kebersihan, seperti tempat sampah, guna meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pantai Tanah Merah telah dikenal sebagai destinasi wisata sejak 1980-an dan kembali diminati pascapandemi Covid-19, seiring meningkatnya tren wisata alam dan aktivitas berkemah. Dengan posisinya yang relatif dekat dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), pantai ini dinilai memiliki peluang strategis untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Kalau ke depan dilirik investor atau ada perhatian lebih dari pemerintah, pasti potensinya besar,” kata Sugeng.

Hingga kini, Pantai Tanah Merah tetap menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan lokal. Namun, tanpa pembenahan fasilitas dan pengelolaan yang lebih serius, potensi besar tersebut dikhawatirkan belum dapat dimaksimalkan. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com