Pedagang Sapi Tarakan Terpukul Harga Tinggi dan Minim Modal

Kenaikan harga sapi dan tersendatnya akses Kredit Usaha Rakyat membuat penjualan dan pasokan ternak di Tarakan melambat.

TARAKAN – Lonjakan harga sapi dan tersendatnya akses permodalan membuat pasokan ternak di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), mulai terbatas, berdampak langsung pada melambatnya penjualan di tingkat pedagang lokal menjelang momen penting seperti Iduladha.

Kondisi tersebut dirasakan oleh Soleh, penjual sapi di kawasan Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, yang telah lebih dari satu dekade menjalankan usaha penjualan ternak. Ia mengaku tahun ini menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan harga sapi dan tidak tersalurkannya Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang biasanya menjadi penopang modal usaha.

“Sekarang sapi mahal sekali,” ucap Pak Soleh pelan, membuka percakapan, Minggu (19/04/2026).

Menurutnya, kenaikan harga sapi tahun ini cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, meski ia tidak merinci angka pasti. Dampaknya, daya beli masyarakat menurun dan transaksi pun tidak seramai biasanya. “Baru sekarang mahal, mahal banget,” katanya lagi.

Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan modal setelah pengajuan KUR ke perbankan tidak disetujui. Padahal, pembelian sapi dalam jumlah besar membutuhkan dana hingga miliaran rupiah. “Kalau biasanya saya bisa pesan ratusan ekor itu miliaran. Sekarang tidak bisa, tidak dikasih perbankan, ya namanya kita orang kecil,” ungkapnya.

Akibatnya, pasokan sapi yang masuk ke Tarakan ikut berkurang. Ia menyebut saat ini hanya mampu mempertahankan sekitar 50 hingga 55 ekor sapi di lapaknya, dengan tambahan terbatas dari luar daerah. “Kemarin saya cuma dapat 15 sapi itu sudah sama stok di sini karena modal terbatas,” ujarnya.

Tidak hanya pasokan, pola pembelian juga mengalami perubahan. Banyak calon pembeli yang masih ragu untuk bertransaksi, bahkan ada yang membatalkan pesanan tanpa konfirmasi meski tidak menggunakan uang muka. “Belum ada yang pesan juga. Biasanya ada saja yang datang duluan,” katanya.

Soleh tetap mempertahankan sistem kepercayaan dalam penjualan tanpa down payment (DP) besar. Namun, sistem tersebut kerap menimbulkan risiko pembatalan sepihak dari pembeli. “Kami modal kepercayaan saja,” akunya. “Ternyata ada saja sudah beli di lain dan lupa ngabari kami. Ya begitulah. Tapi ada juga pesan dan betul-betul bayar sampai selesai,” pungkasnya, sebagaimana dilansir Tribunkaltara, Senin (20/04/2026).

Di tengah situasi tersebut, ia tetap menjalankan usahanya sambil merawat ternak dengan penuh ketelatenan. Baginya, menjaga kesehatan sapi membutuhkan perhatian yang sama seperti manusia. “Sapi itu rawan. Kadang sehat, kadang sakit. Sama seperti kita manusia. Kita juga nggak tahu kapan,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Soleh memilih bertahan dan menjalani usahanya dengan sikap sederhana. “Kita ini cuma jalani saja. Nggak usah mengeluh betul. Sabar aja. Karena manusia cuma bisa jalani saja,” akunya.

Kondisi ini mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil di sektor peternakan, khususnya terkait akses pembiayaan dan fluktuasi harga. Diharapkan, dukungan permodalan dan stabilisasi harga dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha serta ketersediaan pasokan ternak di daerah. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com