GLK Soroti Minimnya Minat Baca, Dorong Pemda Kukar Miliki Indikator Terukur

GLK menilai rendahnya minat baca dan ketiadaan indikator terukur menjadi hambatan utama pengembangan literasi di Kukar.

KUTAI KARTANEGARA – Perwakilan Gerakan Literasi Kutai Kartanegara (GLK), Arsad, menyoroti rendahnya minat baca masyarakat serta ketiadaan indikator terukur dalam program literasi daerah saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Tahun 2027 di Aula Lantai 1 Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar, Senin (20/04/2026).

Dalam forum tersebut, Arsad menegaskan bahwa persoalan literasi di Kukar masih berada pada tahap mendasar, yakni rendahnya minat baca masyarakat. Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan awal yang harus diselesaikan sebelum pemerintah daerah mengembangkan literasi dalam cakupan yang lebih luas.

“Kalau konteksnya gerakan literasi, kita harus melihat sejauh mana kesiapan kita dalam menangkap peluang tersebut. Pertanyaannya, kita sudah sampai di mana?” ujar Arsad.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dipaparkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim), tingkat minat baca masyarakat masih tergolong rendah. Kondisi tersebut dinilai menjadi hambatan utama dalam upaya meningkatkan kualitas literasi daerah.

“Fakta dari provinsi menunjukkan bahwa minat baca saja masih sangat minim. Kita bahkan belum bicara literasi yang lebih luas seperti keterampilan,” katanya.

Selain itu, Arsad mendorong adanya kolaborasi lintas sektor guna merumuskan indikator yang jelas dan terukur dalam menilai keberhasilan program literasi. Menurutnya, tanpa parameter yang konkret, pemerintah akan kesulitan mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah dijalankan.

“Kami berharap ada alat ukur yang jelas untuk melihat progres program, sehingga apa yang dilakukan pemerintah daerah bisa dievaluasi secara berkelanjutan,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menilai perencanaan pembangunan daerah harus berbasis pada indikator terukur agar hasilnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, khususnya generasi muda sebagai sasaran utama program literasi.

“Perencanaan harus terukur, sehingga output-nya benar-benar terasa. Nantinya, pelajar dan generasi muda bisa melihat indikator keberhasilan dari program tersebut,” tuturnya.

Masukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembahasan Musrenbang RKPD Kukar 2027 yang bertujuan menyusun arah kebijakan pembangunan daerah secara partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat.[]

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com