Rajoub Tolak Isyarat Damai FIFA, Ketegangan Palestina-Israel Memuncak

Penolakan simbolis di Kongres FIFA menyoroti ketegangan politik Palestina-Israel yang turut merambah dunia sepak bola internasional.

VANCOUVER – Ketegangan politik membayangi Kongres FIFA ke-76 setelah Presiden Federasi Sepak Bola Palestina Jibril Rajoub menolak berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel Basim Sheikh Suliman, memicu sorotan terhadap konflik yang merembet ke panggung olahraga internasional.

Insiden tersebut terjadi saat Presiden FIFA Gianni Infantino mencoba mempertemukan kedua pihak di hadapan peserta kongres. Upaya simbolis untuk menunjukkan rekonsiliasi itu tidak berhasil, bahkan memperlihatkan ketegangan terbuka di forum resmi sepak bola dunia.

Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Palestina Susan Shalabi mengungkap alasan di balik penolakan tersebut. “Saya tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang dibawa Israel untuk menutupi fasisme dan genosida mereka! Kami sedang menderita,” ungkap Shalabi menirukan ucapan Rajoub, sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Jumat, (01/05/2026).

Menanggapi situasi tersebut, Infantino mencoba meredakan ketegangan dengan menyerukan kerja sama kedua pihak. “Kita akan bekerja sama, Presiden Rajoub, Wakil Presiden Suliman. Mari kita bekerja sama untuk memberikan harapan kepada anak-anak. Ini adalah masalah yang kompleks,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut justru menuai kritik dari kubu Palestina. Shalabi menilai upaya mempertemukan kedua tokoh tanpa mempertimbangkan konteks pidato sebelumnya dianggap mengabaikan substansi tuntutan yang disampaikan.

Dalam pidato sebelumnya, Rajoub meminta agar klub-klub Israel tidak diizinkan berkompetisi di wilayah Tepi Barat yang diklaim Palestina. Permintaan itu berkaitan dengan sengketa panjang mengenai status wilayah tersebut dalam hukum internasional.

“Ditempatkan pada posisi di mana harus berjabat tangan setelah semua yang dikatakan, ini meniadakan seluruh tujuan pidato yang disampaikan oleh Jenderal (Rajoub). Kemudian kita akan menutup-nutupi masalah ini. Itu tidak masuk akal,” keluh Shalabi.

Sebagai tindak lanjut, Federasi Sepak Bola Palestina telah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga terkait sikap FIFA yang tidak menjatuhkan sanksi kepada Israel. Sebelumnya, FIFA memutuskan tidak mengambil tindakan dengan alasan status hukum Tepi Barat masih belum terselesaikan dalam hukum internasional publik.

Peristiwa ini menegaskan bahwa konflik geopolitik masih menjadi tantangan serius bagi netralitas olahraga global, sekaligus menguji peran FIFA dalam menjembatani kepentingan yang saling bertentangan di tengah tekanan internasional. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com