Revisi biaya Operation Epic Fury mengungkap beban finansial besar dan ketidakpastian pengeluaran jangka panjang dalam konflik AS-Iran.
WASHINGTON – Lonjakan biaya operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran menjadi sorotan setelah laporan terbaru mengungkap pengeluaran yang jauh lebih besar dari estimasi awal, sekaligus menunjukkan besarnya kerugian material dalam konflik yang masih menyisakan ketidakpastian.
Laporan CBS News pada Kamis (30/04/2026) menyebutkan revisi biaya operasi militer bertajuk Operation Epic Fury mencapai dua kali lipat dari angka yang sebelumnya disampaikan dalam sidang Kongres sehari sebelumnya. Dalam kesaksian itu, pejabat Pentagon Jules Hurst menyebut operasi tersebut telah menelan biaya sekitar USD25 miliar atau setara Rp450 triliun.
Namun, Hurst menegaskan bahwa total biaya sebenarnya masih sulit dipastikan karena banyak komponen belum terhitung, terutama terkait pembangunan infrastruktur militer jangka panjang. “Kita tidak tahu seperti apa postur kita di masa depan, atau pembangunan pangkalan-pangkalan tersebut di masa depan,” kata Hurst di hadapan Senat, sebagaimana diberitakan CBS News, Kamis, (30/04/2026).
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa estimasi awal belum sepenuhnya memasukkan kerugian alat utama sistem persenjataan. Di antaranya adalah hilangnya 24 unit pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang masing-masing bernilai lebih dari USD30 juta, menandakan besarnya dampak finansial dari operasi militer yang berlangsung.
Konflik ini bermula ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu respons balasan dari Teheran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk serta penutupan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.
Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata pada 8 April dengan mediasi Pakistan, dilanjutkan pembicaraan di Islamabad pada 11–12 April. Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan konkret.
Presiden AS Donald Trump kemudian memutuskan memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu baru, atas permintaan Pakistan. Langkah ini menambah ketidakpastian arah kebijakan militer AS ke depan, sekaligus mempersulit perhitungan biaya jangka panjang dari konflik tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa selain dampak geopolitik, konflik AS-Iran juga membawa konsekuensi ekonomi yang signifikan, baik dari sisi pengeluaran militer maupun kerugian aset, yang berpotensi terus bertambah seiring belum adanya penyelesaian permanen. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan