MOJOKERTO – Berada di lereng Gunung Welirang dan Penanggungan, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjelma menjadi bukti nyata sukses pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat. Dengan penduduk sekitar 5.600 jiwa, desa ini mampu membukukan laba bersih hingga Rp4 miliar pada 2024.
Kesuksesan ini diraih melalui skema investasi gotong royong yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dalam skema tersebut, setiap kepala keluarga diberi kesempatan membeli maksimal 10 slot investasi senilai Rp1 juta per slot. Dari program urun dana itu, terkumpul modal sekitar Rp4,6 miliar yang kemudian digunakan untuk mengembangkan dua destinasi unggulan, yakni Wisata Sawah Sumber Gempong dan Taman Ghanjaran di Dusun Sukarame.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, menjelaskan bahwa model investasi tersebut dirancang agar masyarakat ikut merasakan manfaat langsung dari pengembangan wisata desa.
“Warga yang ikut investasi bisa memperoleh dividen minimal Rp500 ribu per bulan. Saat musim libur dan Lebaran, keuntungannya bahkan bisa mencapai Rp3,5 juta,” ujarnya saat menerima kunjungan rombongan wartawan ekonomi bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada Jumat (22/05/2026).
Sebelum berkembang, sebagian besar warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan usaha kecil. Namun, potensi alam desa di ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut mulai dioptimalkan menjadi destinasi wisata berbasis alam dan keluarga. Dengan harga tiket masuk Rp8 ribu untuk dewasa dan Rp5 ribu untuk anak-anak, destinasi wisata tersebut mampu menarik 200–300 pengunjung per hari pada hari biasa, dan melonjak hingga sekitar 2.000 pengunjung saat akhir pekan dan musim libur panjang.
Selain menawarkan pemandian alami dan panorama sawah, Desa Ketapanrame juga mengembangkan kembali perkebunan kopi peninggalan era kolonial Belanda. Melalui BUMDes, kopi jenis Arabika dan Robusta kini diproduksi dan dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Trawas.
Dukungan Bank Indonesia
Sejak 2024, Bank Indonesia (BI) Jawa timur turut memberikan dukungan melalui pendampingan dan bantuan sarana produksi maupun infrastruktur wisata. Bantuan tersebut mencakup pembangunan penunjuk arah, gazebo, hingga mesin kasir lengkap dengan aplikasinya. Di sektor kopi, BI membantu penyediaan mesin pemilah, mesin roasting, grinder, rumah produksi, hingga genset berkapasitas 30.000 watt untuk mengatasi keterbatasan listrik di kawasan wisata.
Menurut Zainul, dukungan tersebut mampu menekan biaya produksi kopi hingga 50 persen.
“Dulu kami masih menggunakan kursi plastik merah, sekarang BI membantu 100 unit kursi yang lebih elegan. Begitu juga alat pengolahan kopi, mulai pemilahan hingga sangrai, semua dibantu BI,” katanya.
Desa wisata yang resmi dikembangkan sejak 2020 melalui Surat Keputusan Bupati Mojokerto itu kini semakin dikenal secara nasional. Selain kopi khas Trawas, wisatawan juga diperkenalkan dengan produk minuman inovatif Mica berbahan dasar jeruk Nagami khas Ketapanrame.
Atas keberhasilannya, Desa Ketapanrame meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik Nasional dari Kementerian Pariwisata pada 2023, serta penghargaan serupa dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Meski laba bersih pada 2025 turun menjadi Rp2 miliar, pemerintah desa menargetkan peningkatan kembali menjadi Rp2,3 miliar pada 2026. Model pengembangan wisata berbasis investasi warga tersebut dinilai menjadi contoh penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan dan inklusif.
Penulis: Irwanto
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan