Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat setelah perluasan operasi militer Israel di Lebanon memicu kekhawatiran internasional atas meningkatnya eskalasi konflik.
TEL AVIV – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Senin (01/06/2026) menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon. Agenda tersebut muncul setelah militer Israel memperluas operasinya dan berhasil merebut Kastil Beaufort, sebuah lokasi strategis di Lebanon Selatan.
Menurut sumber diplomatik yang dikutip AFP, pertemuan darurat itu diminta oleh Prancis di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap meluasnya pertempuran antara Israel dan Hizbullah.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan penghentian konflik yang terus berkembang di kawasan tersebut.
“Tidak ada yang membenarkan eskalasi besar yang sedang berlangsung di Lebanon selatan”, menyerukan diakhirinya pertempuran untuk selamanya.
Perkembangan terbaru terjadi setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tekad untuk memperluas kendali militer di Lebanon pascarebutnya Kastil Beaufort. Dalam pernyataan video yang dirilis setelah operasi tersebut, Netanyahu menilai keberhasilan itu sebagai momentum penting dalam menghadapi Hizbullah.
“kami telah kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya”.
Sementara itu, Hizbullah menyatakan telah melancarkan serangan terhadap pasukan Israel di sekitar Kastil Beaufort serta sejumlah posisi militer dan infrastruktur di wilayah Shlomi dan Nahariya, Israel utara. Sirene peringatan serangan udara juga dilaporkan berbunyi di kawasan Acre.
Di tengah meningkatnya pertempuran, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya delapan orang tewas akibat serangan di Deir Zahrani, Lebanon Selatan, pada Minggu (31/05/2026), termasuk tiga perempuan.
Konflik di Lebanon kembali memanas sejak 2 Maret 2026 ketika Hizbullah meluncurkan roket ke arah Israel. Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April 2026, kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran sehingga kesepakatan tersebut tidak berjalan efektif.
Di sisi lain, upaya diplomasi masih berlangsung. Delegasi militer Lebanon dan Israel telah mengadakan pembicaraan keamanan di Washington pada Jumat lalu, dengan putaran negosiasi lanjutan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) direncanakan berlangsung pada pekan depan.
Situasi di Lebanon Selatan kini menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi memperluas ketidakstabilan kawasan. Pertemuan Dewan Keamanan PBB diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah yang mendorong penurunan eskalasi dan membuka ruang penyelesaian melalui jalur diplomasi, sebagaimana diberitakan Sindonews, Senin (01/06/2026). []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan