Pokemon Go Dituding Simpan Risiko Besar bagi Privasi Pengguna Dunia

Eks informan Google, Zach Vorhies, menuding data visual dan lokasi pengguna Pokemon Go dapat dimanfaatkan untuk melengkapi pemetaan medan militer Amerika Serikat.

WASHINGTON – Isu privasi jutaan pengguna Pokemon Go menjadi sorotan setelah informan Google, Zach Vorhies, menuding rekaman permukaan tanah yang dikumpulkan dari gim berbasis lokasi itu berpotensi dimanfaatkan militer Amerika Serikat (AS) untuk melengkapi pemetaan medan di luar citra satelit.

Klaim tersebut disampaikan Vorhies kepada RT, sebagaimana diwartakan Sindonews, Jumat (12/06/2026). Ia menyebut data dari kamera telepon pintar dan Global Positioning System (GPS) para pemain dapat memberikan informasi lapangan yang tidak selalu terlihat dalam pemetaan satelit.

Pokemon Go dirilis pada 2016 oleh Niantic, perusahaan berbasis di San Francisco. Gim tersebut menjadi salah satu produk populer berbasis realitas tertambah (augmented reality) karena memadukan kamera ponsel, GPS, dan lokasi dunia nyata untuk menampilkan makhluk digital di layar pengguna.

“Saya rasa tidak ada seorang pun yang memainkan Pokemon Go yang membayangkan data mereka akan digunakan untuk membunuh orang. Tetapi itulah yang digunakan saat ini,” ujar Vorhies kepada RT pada hari Kamis, dengan alasan data pengguna dieksploitasi “untuk memainkan permainan yang lebih mematikan, yaitu peperangan.”`

Menurut Vorhies, teknologi yang digunakan dalam gim tersebut memiliki akar dari Keyhole, perusahaan rintisan yang kemudian diakuisisi Google. Ia menilai data visual permukaan tanah yang dikumpulkan dari banyak pengguna dapat membantu penyusunan gambaran medan yang lebih rinci.

“Ada banyak laporan bahwa banyak pemain Pokemon Go mengintai di sekitar pangkalan militer asing, karena ada semacam makhluk yang sangat berharga yang harus mereka abadikan gambarnya,” ungkap Vorhies.

Vorhies menduga Google kemungkinan membagikan data tersebut kepada militer AS untuk membangun “informasi tingkat lapangan” yang melengkapi citra satelit. Menurut dia, gambar dua dimensi dari permukaan tanah dapat membantu merekonstruksi medan tiga dimensi dan menampilkan detail yang tidak terlihat dari luar angkasa.

Ia juga menyinggung perusahaan kecerdasan buatan (AI) besar di AS, termasuk OpenAI, yang menurutnya menyingkirkan mekanisme transparansi internal demi membantu apa yang disebutnya sebagai “negara bayangan” AS.

Perusahaan AI terkemuka AS disebut telah menandatangani kesepakatan dengan Departemen Perang AS, kata Pentagon bulan lalu. “Mereka melawan Rusia di front timur. Mereka melawan Iran di front selatan,” katanya.

“Mereka tidak ingin terhambat oleh birokrasi yang menghalangi mereka untuk mendapatkan keuntungan militer maksimal,” lanjut Vorhies.

Tudingan tersebut memperkuat perdebatan mengenai batas pemanfaatan data pengguna pada aplikasi hiburan berbasis lokasi, terutama ketika data visual dan geografis berpotensi digunakan untuk kepentingan keamanan, pertahanan, atau operasi militer. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com