Perumdam Tirta Galaherang memastikan distribusi air bersih tetap normal sementara Pemkab Mempawah menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab kematian ikan massal di Sungai Mempawah.
MEMPAWAH – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Galaherang Mempawah memastikan layanan air bersih kepada pelanggan tetap berjalan normal meski kematian ikan secara massal terjadi di keramba jaring apung sepanjang aliran Sungai Mempawah.
Peristiwa kematian ikan massal yang terjadi pada Senin (15/06/2026) itu kini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mempawah. Pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti perubahan kondisi air sungai yang diduga memicu matinya ratusan ribu ikan, sebagaimana diberitakan Tribunpontianak, Senin, (15/06/2026).
Direktur Perumdam Tirta Galaherang Mempawah, Muhammad Taufik, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi Sungai Mempawah setelah muncul laporan perubahan warna air dan kematian ikan budidaya di sejumlah titik.
“Kami mengikuti perkembangan yang terjadi di Sungai Mempawah secara intensif. Memang ada perubahan kondisi air yang berdampak pada kematian ikan budidaya, namun sampai saat ini pelayanan air bersih kepada masyarakat masih berjalan normal,” ujar Taufik.
Menurut Taufik, Perumdam tidak bekerja sendiri dalam menyikapi persoalan tersebut. Koordinasi telah dilakukan bersama instansi terkait untuk menelusuri penyebab perubahan kualitas air di Sungai Mempawah.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait dan saat ini sampel air juga telah diambil untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya masih kami tunggu agar bisa diketahui secara pasti penyebab kejadian ini,” katanya.
Ia menjelaskan, hasil pengujian laboratorium akan menjadi dasar bagi pemerintah dan pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan. Dengan begitu, potensi dampak terhadap lingkungan, usaha perikanan, dan pelayanan publik dapat ditekan.
Di sisi lain, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) serta Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalbar telah turun ke lokasi terdampak di kawasan Jalan Gusti Muhammad Taufik, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir.
Tim gabungan mendatangi keramba milik warga pada Jumat (12/6/2026). Selain memeriksa kondisi lapangan, tim berdialog dengan pembudidaya dan mengambil sampel air sungai serta ikan mati untuk dianalisis di laboratorium.
Kepala DPKPP Kabupaten Mempawah, Arifin, mengatakan pemerintah memilih langkah ilmiah agar penyebab kematian ikan massal dapat diketahui secara akurat.
“Tim sudah mengambil sampel air dan ikan untuk diperiksa di laboratorium. Kita tentu harus menunggu hasilnya terlebih dahulu karena proses pengujian memerlukan waktu. Dari sana nanti akan diketahui faktor-faktor yang menyebabkan ikan mati secara massal,” ujar Arifin.
Arifin menegaskan, berbagai asumsi yang berkembang di masyarakat belum dapat dijadikan dasar sebelum hasil pemeriksaan resmi diterbitkan. Pemkab Mempawah, kata dia, tidak ingin berspekulasi atau menyampaikan kesimpulan tanpa dukungan data ilmiah.
“Kita ingin mengetahui penyebabnya secara pasti. Karena itu masyarakat diharapkan bersabar menunggu hasil laboratorium sehingga informasi yang disampaikan benar-benar berdasarkan fakta,” katanya.
Menurut Arifin, kematian ikan dalam jumlah besar tersebut tidak hanya berdampak pada pembudidaya, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekosistem Sungai Mempawah.
“Harapan kami hasil uji laboratorium bisa segera keluar sehingga langkah penanganan maupun upaya pencegahan ke depan dapat dilakukan secara tepat,” katanya.
“Yang paling penting adalah menjaga kualitas lingkungan sungai dan melindungi usaha perikanan masyarakat,” tutupnya.
Taufik mengakui, penumpukan bangkai ikan di kawasan Tanjung Berkat sempat menimbulkan aroma tidak sedap. Kondisi itu terjadi setelah banyak ikan mati mendadak dan dibuang oleh pemilik keramba ke sekitar perairan.
“Memang sempat muncul bau amis akibat banyaknya bangkai ikan yang dibuang. Karena itu kami berharap penyebab utama perubahan kondisi air segera diketahui sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan kondisi sungai bisa kembali pulih,” tuturnya.
Meski kondisi Sungai Mempawah masih dipantau, Perumdam memastikan produksi air tetap berjalan lancar. Hingga kini, belum ada laporan gangguan dari pelanggan terkait kualitas air yang diterima.
“Sampai sekarang belum ada keluhan dari pelanggan mengenai air yang kami distribusikan. Produksi tetap berjalan lancar dan kami terus melakukan pemantauan untuk memastikan pelayanan tetap optimal,” tegas Taufik. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan