IFRC memperingatkan wabah Ebola di RD Kongo belum mencapai puncak dan penanganannya sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat serta keterlibatan relawan lokal.
RD KONGO – Penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) menghadapi tantangan serius karena penyebaran virus dinilai belum mencapai puncaknya, sementara petugas kesehatan masih terkendala kapasitas pengujian dan penolakan dari sebagian masyarakat di wilayah terdampak.
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperingatkan wabah tersebut berpotensi berlangsung hingga satu tahun ke depan jika deteksi kasus, akses operasional, respons medis, dan keterlibatan masyarakat tidak diperkuat, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Selasa, (16/06/2026).
Sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 808 kasus Ebola terkonfirmasi di RD Kongo, dengan sedikitnya 192 kematian. Wabah berpusat di Provinsi Ituri, terutama Bunia yang menjadi salah satu wilayah dengan tekanan penanganan paling tinggi.
Manajer Operasi Ebola IFRC Bruno Michon mengatakan, kondisi di lapangan menunjukkan penyebaran virus masih jauh dari terkendali.
“Di Bunia, yang saya lihat adalah kami belum mencapai puncak epidemi,” kata Michon kepada wartawan di Jenewa melalui sambungan video, Selasa (16/6) dikutip dari AFP.
Menurut Michon, keterbatasan kapasitas pengujian menjadi salah satu hambatan utama. Kondisi itu membuat petugas kesehatan kesulitan memetakan seberapa luas virus telah menyebar di tengah masyarakat.
“Puncaknya, menurut saya, bukan berada di belakang kita, melainkan masih di depan,” ujar Michon.
Ia mengkhawatirkan wabah Ebola di RD Kongo dapat berlangsung hingga satu tahun sebelum benar-benar terkendali. Kekhawatiran itu diperkuat oleh belum tersedianya vaksin maupun pengobatan yang disetujui untuk galur Bundibugyo, jenis virus yang menyebabkan wabah saat ini.
Meski berpusat di Provinsi Ituri, kasus Ebola juga terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Penyebaran virus bahkan telah melintasi perbatasan ke Uganda, yang hingga kini melaporkan 19 kasus terkonfirmasi Ebola, termasuk dua kematian.
Michon menegaskan, keberhasilan mengendalikan wabah tidak dapat hanya bertumpu pada layanan medis. Menurut dia, kepercayaan masyarakat, relawan lokal, keterlibatan warga, dan akses lapangan menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.
“Untuk menghentikan wabah ini, kita perlu berinvestasi bukan hanya pada respons medis, tetapi juga pada kepercayaan, relawan lokal, keterlibatan masyarakat, dan akses operasional,” katanya.
Dalam beberapa hari terakhir, relawan Palang Merah di RD Kongo dilaporkan menghadapi penolakan saat bertugas. Bentuk penolakan itu meliputi pelecehan verbal, ancaman, hingga serangan fisik.
Michon menilai, penolakan warga dapat menghambat deteksi dini, pemakaman aman, perlindungan keluarga, dan upaya memutus penularan. Karena itu, membangun kepercayaan masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama dari respons Ebola.
“Kepercayaan bukanlah aktivitas sekunder dalam respons Ebola. Kepercayaan adalah inti dari semuanya. Tanpa kepercayaan, kami tidak dapat mendeteksi kasus lebih awal, tidak dapat memastikan pemakaman yang aman, tidak dapat melindungi keluarga, dan tidak dapat menghentikan penularan,” ujarnya.
IFRC berharap dukungan terhadap respons medis dapat berjalan seiring dengan penguatan komunikasi risiko dan pelibatan komunitas lokal. Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan wabah lebih diterima masyarakat, kasus dapat terdeteksi lebih cepat, dan penyebaran Ebola tidak semakin meluas di RD Kongo maupun negara tetangga. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan