China membantah tuduhan Uni Eropa yang menyebut militernya melatih personel Rusia untuk bertempur di Ukraina dan menyebut klaim itu sebagai fitnah tanpa dasar fakta.
KYIV – Ketegangan diplomatik antara Republik Rakyat China (China) dan Uni Eropa (UE) kembali menguat setelah Beijing membantah tuduhan yang menyebut militernya melatih personel Rusia untuk bertempur di Ukraina.
Bantahan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China pada Selasa (16/06/2026), sehari setelah Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menyebut pihaknya telah memverifikasi laporan mengenai dugaan keterlibatan militer China dalam pelatihan pasukan Rusia, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Selasa, (16/06/2026).
“Klaim terkait tidak memiliki dasar fakta. Itu murni fitnah dan upaya mencemarkan nama baik,” kata juru bicara tersebut dalam konferensi pers rutin dikutip dari AFP.
Tuduhan tersebut mempertebal sorotan terhadap kedekatan Beijing dan Moskow sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Selama perang berlangsung, China berulang kali menyatakan berada pada posisi netral, tetapi negara-negara Barat menilai Beijing tetap memberi dukungan yang menguntungkan Rusia.
Kallas pada Senin (15/6/2026) menyatakan UE telah “memverifikasi laporan bahwa militer China melatih personel militer Rusia untuk bertempur di Ukraina”. Ia juga menyebut Beijing sebagai “fasilitator utama” yang memungkinkan perang terus berlanjut.
Laporan mengenai dugaan pelatihan itu sebelumnya muncul di sejumlah media pada bulan lalu. Media tersebut mengutip penilaian badan intelijen Eropa yang meyakini China telah menyelenggarakan pelatihan bagi tentara Rusia.
Seorang pejabat senior UE pada Jumat (12/6/2026) juga mengonfirmasi laporan tersebut. Menurut pejabat itu, pelatihan berlangsung di beberapa lokasi di China dan melibatkan “ratusan” personel militer Rusia.
Sebagai respons atas dugaan keterlibatan tersebut, Kallas menyatakan UE telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas asal China. Langkah itu menunjukkan meningkatnya tekanan politik dan diplomatik terhadap Beijing di tengah perang Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir.
Tuduhan tersebut juga memperkuat kecurigaan negara-negara Barat bahwa China memberikan dukungan material kepada Rusia dalam skala lebih besar daripada yang selama ini diakui secara resmi.
Hubungan China dan Rusia semakin erat sejak perang Ukraina pecah. Ketika Rusia menghadapi isolasi diplomatik dan tekanan ekonomi dari Barat, China menjadi salah satu mitra ekonomi penting yang membantu menopang perekonomian Moskow.
Meski demikian, bantahan keras dari Beijing menunjukkan bahwa isu dugaan pelatihan personel Rusia berpotensi menjadi babak baru dalam ketegangan China dengan UE, terutama dalam upaya Barat menekan dukungan terhadap Rusia di tengah konflik Ukraina. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan