Serangan udara dan operasi militer Israel kembali menghantam Lebanon selatan meski telah ada kesepakatan kerangka perdamaian, dengan sejumlah wilayah sipil termasuk area dekat rumah sakit dilaporkan terdampak.
BEIRUT – Serangkaian serangan udara dan operasi militer yang dilancarkan Israel kembali mengguncang Lebanon selatan, dengan sasaran yang dilaporkan mencakup area pemukiman, infrastruktur desa, hingga wilayah yang berada dekat fasilitas kesehatan di Kota Nabatieh. Eskalasi ini terjadi di tengah kesepakatan kerangka perdamaian yang sebelumnya telah ditandatangani kedua pihak dengan mediasi Amerika Serikat.
Menurut kantor berita Lebanon National News Agency (NNA) sebagaimana diwartakan Anadolu Agency, Jumat (03/07/2026), sebuah pesawat tanpa awak drone milik militer Israel dilaporkan menyerang area di sekitar Rumah Sakit Ghandour di Kota Nabatieh. Serangan tersebut memicu kekhawatiran baru terkait keselamatan warga sipil di wilayah terdampak konflik berkepanjangan.
Di wilayah Distrik Bint Jbeil, pesawat tempur Israel juga disebut melancarkan serangan udara ke Kota Braashit. Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Selain itu, operasi penghancuran dilaporkan terjadi di Kota Hadatha yang menargetkan sejumlah rumah warga. Ledakan juga terdengar di sekitar Kota Kounine dan Tayri di distrik yang sama, memperluas dampak serangan ke beberapa titik permukiman lain di Lebanon selatan.
Di wilayah Tirus, aktivitas pengintaian drone Israel juga terpantau berlangsung dengan intensitas tinggi, dengan pesawat tanpa awak terbang rendah di atas kota dan sekitarnya, menandakan masih berlangsungnya operasi militer aktif di kawasan tersebut.
Militer Israel belum memberikan keterangan resmi terkait rangkaian serangan dan operasi penghancuran tersebut. Namun dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, Israel kerap menyebut target serangan diarahkan pada kelompok Hizbullah dan infrastruktur yang mereka klaim terkait, meski otoritas Lebanon menegaskan banyak korban berasal dari kalangan warga sipil.
Sebelumnya pada 26 Juni, Israel dan Lebanon telah menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat terkait rencana penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Kesepakatan tersebut mencakup pembentukan zona percontohan sebagai bagian awal implementasi.
Kesepakatan itu dipandang pemerintah Lebanon sebagai langkah menuju pemulihan kedaulatan penuh serta upaya mendorong kepulangan warga yang mengungsi akibat konflik. Namun kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menyebutnya “tidak ada” dan “memalukan”.
Sementara itu, ketegangan di lapangan menunjukkan bahwa implementasi kesepakatan masih jauh dari stabil, dengan meningkatnya operasi militer yang berpotensi memperpanjang eskalasi konflik di kawasan perbatasan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan