Iran menegaskan negosiasi dengan Amerika Serikat tidak akan dilanjutkan selama Presiden Donald Trump masih melontarkan ancaman, meski kedua negara telah menandatangani Memorandum of Understanding pada awal Juni.
TEHERAN – Pemerintah Iran menegaskan proses perundingan dengan Amerika Serikat (AS) tidak akan dilanjutkan selama Presiden AS Donald Trump masih melontarkan ancaman terhadap Teheran. Sikap tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi di tengah rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Araghchi menyatakan jutaan warga Iran yang menghadiri prosesi penghormatan terakhir kepada Khamenei menunjukkan persatuan nasional dan tidak akan terpengaruh oleh tekanan dari pihak luar.
“Jutaan warga Iran dengan bangga berkumpul dalam persatuan untuk menghormati Ayatollah Agung Khamenei dan warisannya, baik mereka maupun Angkatan Bersenjata kita yang gagah berani tak gentar oleh ancaman apapun,” kata Araghchi melalui akun X.
Dalam unggahan tersebut, Araghchi juga menyinggung isi Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya telah ditandatangani secara terpisah oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Menurutnya, kelanjutan perundingan hanya dapat dilakukan apabila seluruh pihak menghormati komitmen yang telah disepakati.
“Negosiasi mengenai kesepakatan akhir tak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Hormati tanda tangan Anda,” lanjut Araghchi, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa (07/07/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump kembali menyampaikan ancaman terhadap Iran. Dalam keterangannya di Ruang Oval, Trump menyebut AS dapat kembali melancarkan serangan apabila kesepakatan tidak tercapai.
“Kita bisa merobohkan jembatan mereka dalam satu jam, kita bisa memutus pasokan energi mereka. Mereka tidak punya uang sekarang,” kata Trump kepada awak media.
Dia lalu berujar, “Kita belum memberi mereka uang sepeser pun.”
Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei disemayamkan di Masjid Agung Teheran pada 4-5 Juli sebelum jenazahnya dibawa ke Qom, sejumlah kota suci Syiah di Irak, dan dijadwalkan dimakamkan di Mashhad pada 9 Juli. Di sisi lain, MoU yang diteken kedua negara pada awal Juni memuat kesepakatan penghentian pertempuran di seluruh front, penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara, serta pencairan aset Iran yang sebelumnya dibekukan AS. Ketegangan terbaru dikhawatirkan dapat menghambat implementasi kesepakatan tersebut dan memperburuk hubungan kedua negara. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan