Pemkab Kubu Raya bersama TNI, Polri, dan unsur terkait meningkatkan kesiapsiagaan setelah berhasil mengendalikan enam titik kebakaran di tengah cuaca kering selama belasan hari.
KUBU RAYA – Enam titik kebakaran yang muncul setelah wilayah Kabupaten Kubu Raya tidak diguyur hujan selama belasan hari berhasil dikendalikan. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan unsur terkait tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Penguatan kesiapsiagaan dilakukan melalui Apel Siaga Penanggulangan Karhutla yang dipimpin Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/Tanjungpura Novi Rubadi Sugito di halaman Kantor Bupati Kubu Raya, Kamis (16/07/2026).
Apel tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, perlengkapan, dan sarana pendukung dalam mencegah serta menangani karhutla sebelum meluas dan menimbulkan kabut asap.
Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan, penanganan karhutla dilakukan melalui dua strategi, yakni pencegahan dan penanggulangan. Kendati Kubu Raya telah mengalami cuaca kering selama belasan hari, seluruh titik kebakaran yang terdeteksi sejauh ini telah ditangani.
“Ya Alhamdulillah, sampai saat ini kita sudah belasan hari kita tidak hujan. Enam titik yang sekarang terjadi kebakaran semuanya Alhamdulillah dapat kita kendalikan,” ucapnya.
Sebagaimana dilansir Prokopim Kubu Raya, Kamis, (16/07/2026), Sujiwo menilai keterlibatan TNI, Polri, pemadam kebakaran (damkar) swasta, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) menunjukkan keseriusan bersama dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Dan tentunya kehadiran beliau (Pangdam) bersama Danlanud dan Satbrimob serta yang lainnya akan menambah semangat. Dan hal ini merupakan wujud nyata keseriusan pemerintah bersama TNI dan Polri, bersama pihak swasta, damkar swasta, MPA, untuk melawan yang namanya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Sujiwo.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) dan Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) menjadi bagian dari unsur yang dilibatkan dalam penguatan penanganan karhutla di Kubu Raya.
Sujiwo mengapresiasi seluruh pihak yang telah membantu Pemkab Kubu Raya mengendalikan kebakaran dan mencegah meluasnya titik api.
“Saya terima kasih sekali dengan kehadiran TNI dan Polri yang luar biasa hadir membantu kami, termasuk damkar-damkar swasta, MPA. Maka sekali lagi saya mengucap terima kasih kepada Panglima, Danlanud, TNI dan Polri yang bahu-membahu membantu kami dalam rangka menanggulangi serta mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” lanjutnya.
Ia menegaskan, karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi, dan perekonomian masyarakat.
“Saya selalu sampaikan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan itu sangat serius. Bisa ke sektor kesehatan ketika sudah asap tebal, penyakit ISPA itu luar biasa, penyakit pernafasan. Belum lagi masalah pendidikan, kalau sudah asap tebal, sekolah-sekolah diliburkan. Ke sektor ekonomi, penerbangan terhenti, maka pergerakan ekonomi juga akan terhenti, akan berpengaruh,” jelasnya.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu penyakit yang dikhawatirkan meningkat apabila kebakaran meluas dan menghasilkan kabut asap tebal.
Sementara itu, Pangdam XII/Tanjungpura Novi Rubadi Sugito mengingatkan bahwa perubahan iklim dan siklus kekeringan dapat memperbesar risiko kebakaran. Karena itu, kesiapan sumber daya harus dipastikan sejak awal sebagai upaya pencegahan.
“Secara periodik iklim juga berperan serta menyebabkan kekeringan sesuai dengan siklusnya. Untuk itu, kesiapan personel, peralatan, perlengkapan, dan material harus dipastikan sejak awal sebagai langkah preventif,” kata Pangdam.
Novi menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur karena dampaknya dapat meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.
“Keberhasilan penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Perlu kerja sama sinergis antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam swasta, perusahaan sebagai pemilik lahan, masyarakat, hingga tokoh masyarakat yang menjadi panutan di wilayahnya,” kata Mayjen Novi.
Ia meminta seluruh jajaran meningkatkan sosialisasi, pembinaan masyarakat, serta pemantauan dini terhadap potensi titik panas. Langkah tersebut diperlukan agar peristiwa kabut asap besar seperti pada 2019 tidak kembali terjadi di Kalimantan Barat (Kalbar), khususnya Kubu Raya.
“Kita sebagai aparat di wilayah Kalimantan Barat khususnya Kubu Raya harus memiliki kewaspadaan dan kesiapsiagaan maksimal. Laksanakan prosedur yang telah digariskan pimpinan untuk menghindari kerugian personel maupun materiel,” tegasnya.
Novi optimistis koordinasi yang kuat, kedisiplinan petugas, dan keterlibatan masyarakat dapat menekan risiko karhutla selama musim kemarau.
“Saya yakin dengan sinergi, disiplin, dan semangat kebersamaan seluruh komponen, kita mampu mencegah karhutla sehingga masyarakat Kalimantan Barat dapat beraktivitas dengan aman, sehat, dan produktif secara normal,” pungkasnya.
Sujiwo berharap kehadiran pimpinan dan personel lintas lembaga dapat meningkatkan semangat petugas yang bekerja di lapangan.
“Sekali lagi kehadiran Pak Panglima menjadi penyemangat kami di lapangan ini,” pungkasnya.
Pemkab Kubu Raya akan terus memperkuat pemantauan, pencegahan, sosialisasi, dan penanganan cepat agar titik api tidak meluas menjadi kebakaran besar serta mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan