Kesepakatan pengembangan nuklir sipil antara AS dan Arab Saudi menuai kritik dari oposisi serta pengamat Israel yang menilai perjanjian tersebut berpotensi memicu perlombaan senjata di Timur Tengah.
TEL AVIV – Kesepakatan kerja sama pengembangan nuklir sipil antara Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi memicu gelombang kritik dari kalangan politik dan pengamat keamanan Israel. Di tengah sorotan tersebut, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu belum menyampaikan tanggapan resmi terkait perjanjian yang dinilai dapat mengubah keseimbangan strategis di Timur Tengah.
Sejumlah tokoh oposisi Israel menilai kerja sama tersebut berpotensi memicu perlombaan senjata di kawasan sekaligus melemahkan posisi keamanan Israel. Kesepakatan itu juga dinilai menghilangkan peluang normalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv yang sebelumnya didorong Washington.
Mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Liberman, menilai pemberian akses program nuklir sipil kepada Arab Saudi berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.
“Program nuklir sipil untuk Arab Saudi pada akhirnya akan berujung pada kepemilikan senjata nuklir dan memicu perlombaan senjata yang tak terkendali di seluruh Timur Tengah.”
Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, turut mengkritik kebijakan tersebut. Ia menilai kesepakatan itu menciptakan situasi yang membahayakan bagi kepentingan Israel.
“Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir,” ujarnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (23/07/2026).
Peneliti Senior di Institute for National Security Studies (INSS), Yoel Guzansky, mengatakan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, kerja sama nuklir antara AS dan Arab Saudi selalu dikaitkan dengan proses normalisasi hubungan Riyadh dan Israel.
“Serangan 7 Oktober 2023 Israel ke Jalur Gaza dan agresi yang menyusul setelahnya menghilangkan prospek normalisasi, karena Arab Saudi justru menjadi semakin keras terhadap Israel,” kata Guzansky kepada CNN.
Ia menilai kondisi politik Israel saat ini membuat peluang normalisasi semakin sulit terwujud. Menurutnya, Arab Saudi justru memperoleh keuntungan strategis melalui kesepakatan tersebut.
“Bagi Arab Saudi, ini adalah situasi yang sama-sama menguntungkan. Mereka mendapatkan program nuklir tanpa harus memberikan imbalan apa pun,” ujar Guzansky.
Guzansky juga mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut berpotensi menciptakan preseden baru di kawasan yang dapat mendorong negara lain mengajukan kerja sama serupa. Meski demikian, ia menilai Israel masih memiliki peluang memengaruhi isi perjanjian melalui pembahasan di Kongres AS.
“tetapi dapat berupaya memperbaikinya melalui Kongres. Masih ada ruang untuk penyempurnaan, misalnya dalam hal mekanisme pengawasan dan inspeksi.”
AS dan Arab Saudi resmi menandatangani kerja sama pengembangan nuklir sipil pada Rabu (22/7). Berdasarkan sejumlah laporan media AS, kesepakatan tersebut membuka peluang bagi perusahaan AS untuk mengembangkan fasilitas nuklir sipil, termasuk pembangunan lokasi pengayaan uranium di Arab Saudi. Perjanjian itu tercapai ketika konflik AS dan Iran kembali memanas, sementara program nuklir Iran masih menjadi salah satu isu utama dalam dinamika keamanan kawasan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan