Wakili Kutim, Desa Singa Gembara Unggulkan Dapur Stunting di Tingkat Kaltim

Desa Singa Gembara mewakili Kutim dalam penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Penanganan Stunting tingkat Kaltim dengan mengunggulkan inovasi Dapur Stunting berbasis intervensi gizi dan edukasi keluarga.

KUTAI TIMUR – Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, mewakili Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Penanganan Stunting tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (24/08/2026). Salah satu inovasi yang diunggulkan dalam penilaian tersebut ialah Dapur Stunting yang memadukan pemberian makanan bergizi dengan edukasi kesehatan ibu dan anak.

Penilaian dilaksanakan secara daring melalui Zoom dari ruang rapat Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi berjenjang pelaksanaan program Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S).

Tim dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim menilai sejumlah aspek kinerja Desa Singa Gembara, mulai dari perencanaan program, pemanfaatan data, pelaksanaan kegiatan, hingga inovasi yang dikembangkan untuk mencegah dan menangani stunting.

Sejumlah indikator turut menjadi perhatian, di antaranya pelaksanaan pra-Musyawarah Perencanaan Pembangunan (pra-Musrenbang), penggunaan aplikasi Electronic Human Development Worker (e-HDW), serta keterlibatan masyarakat dan lintas sektor dalam menjalankan program.

Tim penilai terdiri atas perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim, Dinas Kesehatan Kaltim, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kaltim, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kaltim.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penilaian yang diinisiasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Setiap desa peserta diberi kesempatan memaparkan program, capaian, dan strategi yang diterapkan dalam menangani stunting di wilayah masing-masing.

Proses penilaian berlangsung sekitar 45 menit, terdiri atas presentasi selama 15 menit dan sesi tanya jawab selama 30 menit. Dalam kesempatan itu, Desa Singa Gembara memaparkan inovasi Dapur Stunting sebagai salah satu program unggulan.

Kepala Desa (Kades) Singa Gembara Hamriani Kassa mengatakan Dapur Stunting dikembangkan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan dan dibahas bersama masyarakat. Gagasan awal program tersebut dirumuskan melalui musyawarah di tingkat dusun dan rukun tetangga (RT).

“Dapur Stunting ini bukan hanya tempat membuat makanan sehat. Kami ingin tempat ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan mendapatkan edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta bagaimana mencegah stunting sejak dini,” katanya.

Hamriani menjelaskan, pemberian makanan bergizi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Upaya tersebut diharapkan membantu keluarga menerapkan pola makan dan pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Dapur Stunting, masyarakat juga diarahkan memperoleh informasi mengenai kebutuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta tumbuh kembang anak. Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan intervensi jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran keluarga secara berkelanjutan.

Untuk memperkuat pengelolaan program, Pemerintah Desa (Pemdes) Singa Gembara telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penunjukan Pengelola Dapur Stunting.

Pelaksanaan program turut memperoleh dukungan dari Perseroan Terbatas (PT) Pamapersada Nusantara (PAMA) dan pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) 2025, khususnya pada bidang kesehatan dan pendidikan.

Menurut Hamriani, kolaborasi berbagai unsur menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program karena penanganan stunting membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Target akhirnya bukan hanya desa berkinerja baik, tetapi bagaimana anak-anak kita tumbuh sehat, generasi kita kuat, dan masyarakat semakin memahami pentingnya gizi dan kesehatan,” ujarnya.

Keikutsertaan Desa Singa Gembara dalam penilaian tingkat Kaltim menjadi kesempatan untuk mengukur efektivitas program sekaligus mengevaluasi aspek yang masih perlu diperkuat. Hasil penilaian diharapkan dapat mendorong Pemdes Singa Gembara mempertahankan inovasi dan meningkatkan kualitas intervensi agar upaya pencegahan stunting memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. []

Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com